Tuchel Tegaskan Komitmen 100% untuk Inggris di Euro 2028 meski Gagal di Semifinal Piala Dunia

Tuchel Tak Bergoyang Meski Diguncang Kritik

Thomas Tuchel menegaskan bahwa dirinya tetap 100% berkomitmen untuk memimpin Timnas Inggris menuju Euro 2028, meskipun langkah The Three Lions terhenti di babak semifinal Piala Dunia baru-baru ini. Kekalahan 2-1 dari Argentina di Atlanta menyisakan kekecewaan mendalam, terutama setelah Inggris sempat unggul lebih dulu melalui gol Anthony Gordon pada menit ke-55.

Manajer asal Jerman itu langsung menjadi sorotan tajam karena keputusannya mengubah formasi menjadi lima bek di 20 menit terakhir. Strategi tersebut justru berbalik merugikan, dengan Argentina mencetak dua gol di masa injury time untuk melaju ke final melawan Spanyol. Namun, Tuchel bersikeras bahwa masalahnya bukan pada formasi, melainkan pada sikap pasif para pemain setelah unggul.

Tuchel: “Saya 100% Ingin Lanjutkan Proyek Euro 2028”

Ketika ditanya apakah ia masih ingin menangani Inggris untuk dua tahun ke depan, termasuk persiapan menuju Euro 2028, Tuchel menjawab dengan tegas. “Ya, 100%. Masih banyak yang perlu ditingkatkan dan saya sangat senang melakukannya. Saya menikmati setiap hari selama Piala Dunia ini,” ujarnya dalam konferensi pers pasca pertandingan.

Tuchel

Tuchel menambahkan bahwa ia melihat potensi besar yang belum tergali sepenuhnya dalam tim. “Setelah kemenangan perempat final melawan Norwegia, saya merasakan ada keterputusan antara performa di latihan dan di pertandingan. Kami bisa lebih mendominasi penguasaan bola, menunjukkan kualitas sepak bola kami. Itu masih ada di dalam diri kami, seperti yang saya lihat setiap hari di latihan. Saya yakin ada level tambahan yang harus kami taklukkan untuk meraih hadiah terbesar,” jelas mantan pelatih Chelsea itu.

Analisis Kekalahan: Bukan Salah Formasi, Tapi Sikap Pasif

Keputusan Tuchel menarik keluar Anthony Gordon pada menit ke-72 dan memasukkan bek tengah Ezri Konsa untuk beralih ke formasi lima bek menuai kritik. Namun, ia berargumen bahwa masalah sudah mulai terlihat bahkan sebelum pergantian itu, tepatnya setelah gol Gordon. Timnya tetap memakai formasi 4-2-3-1, tetapi permainan mulai menurun.

Salah satu titik balik terjadi pada menit ke-64 ketika pelatih Argentina, Lionel Scaloni, mengganti gelandang bertahan Leandro Paredes dengan winger kiri Nico González, mengubah formasinya menjadi 4-2-4. Scaloni kemudian menarik bek kiri Nico Tagliafico pada menit ke-81 dan memasukkan striker Lautaro Martínez, yang akhirnya mencetak gol kemenangan di injury time. Dalam rentang waktu antara gol Gordon dan gol Martínez, Inggris hanya memiliki 12% penguasaan bola.

Tuchel mengakui timnya terlalu pasif. “Kami menjadi terlalu pasif dalam struktur kami. Saya mencoba membantu dengan formasi lima bek agar lebih agresif keluar menekan sayap lawan. Kami mendorong semua pemain untuk keluar dan lebih aktif, tapi justru kesulitan. Kami tidak bisa memenangkan duel lagi, terus mundur, hingga kehilangan kendali,” katanya.

Tuchel: DNA Kontrol Bola Bukan Tradisi Inggris

Pelatih 51 tahun itu dengan blak-blakan menyentuh aspek filosofis permainan Inggris. “Kami kesulitan mengembalikan momentum. Penguasaan bola memainkan peran krusial. Mungkin itu bukan DNA kami seperti DNA Spanyol, Argentina, atau Brasil – untuk mengambil bola dan mengontrol pertandingan,” ungkap Tuchel.

Namun ia juga menegaskan bahwa bertahan dalam bukanlah masalah, asalkan tetap aktif. Tapi kali ini fisik tim juga terkuras. Perjalanan panjang, jadwal padat, dan faktor cuaca menjadi kendala besar sepanjang turnamen. Sejak awal Piala Dunia, Inggris sudah menjalani 13 kali penerbangan sebelum tiba di Atlanta untuk melawan Argentina.

Dukungan FA dan Proyek Euro 2028

Meski hasil semifinal mengecewakan, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tetap memberikan dukungan penuh kepada Tuchel. Kontraknya yang diperpanjang pada Februari lalu akan membawanya hingga kampanye Euro 2028. CEO FA, Mark Bullingham, langsung menyampaikan apresiasi setelah pertandingan. “Sungguh memilukan bisa sedekat ini. Para pemain dan Thomas sudah memberikan segalanya. Tidak ada yang bisa bekerja lebih keras dari skuad, pelatih, dan staf selama turnamen ini. Saya berterima kasih kepada mereka semua,” ujar Bullingham.

FA menilai perjalanan Inggris mencapai semifinal sudah melampaui ekspektasi, mengingat grup yang sulit berisi Kroasia dan Ghana, serta potensi lawan berat di fase gugur seperti Meksiko, Brasil, Argentina, dan Spanyol atau Prancis. Kenyataan melawan Norwegia di perempat final dianggap sedikit meringankan, tetapi tantangan logistik – terutama panas dan perjalanan – sangat berat. FA berharap Euro 2028 yang digelar di Inggris dan beberapa negara tuan rumah lain dapat menjadi ajang yang lebih mudah dikelola.

Harapan di Euro 2028: Lebih Siap Fisik dan Mental

Tuchel percaya bahwa pengalaman pahit di Piala Dunia ini akan menjadi pelajaran berharga menuju Euro 2028. Dengan waktu dua tahun ke depan, ia ingin membangun tim yang lebih tangguh dalam mengendalikan pertandingan dan tidak mudah kehilangan momentum. “Kami masih harus mencapai level tambahan untuk mendapatkan hadiah besar. Saya merasa level itu ada dalam tim, kami harus menemukan cara untuk mengeluarkannya secara konsisten,” tegasnya.

Inggris akan menjadi salah satu tuan rumah Euro 2028, yang diyakini bisa menjadi keuntungan besar dalam hal dukungan suporter dan pengurangan beban perjalanan. Tuchel dan FA kini fokus pada persiapan jangka panjang dengan target akhir memutus puasa gelar sejak 1966.

Kesimpulannya, meski kekalahan dari Argentina menyakitkan, Tuchel tetap optimis dan berkomitmen penuh pada proyek Euro 2028. Ia mengakui kelemahan tim dalam hal penguasaan bola dan sikap pasif, namun yakin dengan perbaikan bertahap, Inggris bisa bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa.

This entry was posted in mix parlay, parlay and tagged , , , . Bookmark the permalink.