Arsenal mengawali kiprah mereka di Liga Champions musim ini dengan kemenangan 1-0 atas Napoli, dan Mikel Arteta menilai timnya layak menang dengan margin yang jauh lebih nyaman. Gol Martin Odegaard pada menit ke-75 menjadi penentu bagaimana Arsenal kalahkan Napoli di Stadio Diego Armando Maradona. Menurut sang pelatih, skor akhir sama sekali tidak menggambarkan seberapa dominan anak asuhnya sepanjang pertandingan.
Laga ini punya arti tersendiri karena menjadi penampilan pertama Arsenal di kompetisi tersebut sejak mereka tumbang di final musim lalu oleh Paris Saint-Germain. Melawan wakil raksasa Serie A, pasukan Arteta tampil menekan hampir sepanjang laga dan terus menciptakan peluang. Tiga poin penuh memang sudah di tangan, tetapi Arteta tetap merasa timnya seharusnya bisa pulang dengan kemenangan yang lebih besar.

Arsenal Kalahkan Napoli Berkat Gol Telat Martin Odegaard
Gol pembuka sekaligus satu-satunya gol dalam laga itu lahir dari rangkaian serangan yang tersusun rapi. Odegaard menuntaskan proses tersebut dengan tendangan kaki kiri yang keras dan terarah, bola sempat menghantam tiang gawang sebelum akhirnya masuk ke jaring. Momen itu menjadi puncak dari tekanan yang terus dibangun Arsenal sejak awal pertandingan.
Meski hanya menang satu gol, jalannya pertandingan sebenarnya jauh dari kata ketat. Arsenal menguasai permainan di hampir sepanjang laga yang digelar pada Rabu malam waktu setempat tersebut, dan Napoli lebih banyak bertahan. Sejumlah peluang emas terbuang sebelum Odegaard akhirnya memecah kebuntuan.
Mikel Merino dan Bukayo Saka tercatat membuang kans berharga di babak pertama, saat pertahanan Napoli masih bisa dipecah dengan relatif mudah. Di penghujung laga, Noni Madueke juga gagal menaklukkan Vanja Milinkovic-Savic, kiper pengganti Napoli yang tampil cukup sigap. Deretan peluang yang gagal dikonversi itulah yang membuat Arteta merasa hasil akhirnya kurang adil bagi timnya.
Statistik Laga: 26 Tembakan dan Nilai xG 4,05
Data pertandingan memperkuat klaim Arteta bahwa Arsenal semestinya menang lebih telak. Jumlah tembakan mereka menjadi yang terbanyak dalam satu laga Liga Champions sepanjang pencatatan yang tersedia sejak musim 2003-04. Berikut perbandingan angka kedua tim:
- Tembakan: Arsenal melepas 26 tembakan, sementara Napoli hanya lima kali mengancam.
- Expected goals (xG): Arsenal mencatat 4,05 berbanding 0,22 milik Napoli.
- Efektivitas: Selisih xG yang sangat lebar menunjukkan Arsenal berulang kali masuk ke posisi ideal untuk mencetak gol.
Angka xG 4,05 memberi gambaran bahwa Arsenal seharusnya mencetak sekitar empat gol dari kualitas peluang yang mereka ciptakan. Sebaliknya, Napoli nyaris tidak menghasilkan ancaman berarti dari lima percobaan mereka. Perbandingan ini menjelaskan mengapa Arteta menyebut performa timnya sebagai “superb” meski papan skor hanya menunjukkan 1-0.
Odegaard Jadi Penentu dan Motor Serangan Arsenal
Kontribusi Odegaard tidak berhenti pada gol kemenangan itu. Ia menjadi pemain dengan peluang tercipta terbanyak dalam laga tersebut, yaitu enam kali, sekaligus mencatat sentuhan terbanyak dengan 120 sentuhan. Ia juga menjadi pemain yang paling sering mengirim umpan yang berhasil membongkar garis pertahanan lawan, yakni lima kali.
Dari sisi catatan gol pribadi, performa tersebut melanjutkan tren positif Odegaard di awal musim ini. Ia kini mengoleksi empat gol dari lima penampilan di semua kompetisi bersama Arsenal. Tambahan satu gol itu juga menjadi gol Liga Champions pertamanya sejak Maret 2025, ketika ia mencetak dua gol ke gawang PSV.
Yang menarik, tiga dari total enam gol Odegaard di kompetisi Liga Champions lahir dari luar kotak penalti. Catatan itu menegaskan kemampuannya sebagai gelandang serang yang berbahaya tidak hanya di dalam area, tetapi juga lewat tembakan jarak jauh. Kombinasi gol, kreativitas, dan ketenangan di lini tengah membuatnya menjadi sosok kunci dalam skema Arsenal.
Respons Mikel Arteta soal Performa Arsenal
Saat diminta menyebut hal yang paling memuaskan dari penampilan timnya, Arteta tidak memilih satu aspek tertentu. “Segalanya,” ujarnya, sebelum merinci apa saja yang membuatnya senang. Ia menyoroti cara timnya bertanding, sikap, keberanian, hingga kemampuan memaksakan permainan sejak menit awal.
Arteta juga memuji kualitas Arsenal dalam membongkar pertahanan Napoli yang terkenal sulit ditembus. Menurutnya, tiga poin yang diraih benar-benar layak didapatkan, tetapi hasil akhir tidak sepadan dengan kualitas permainan yang ditunjukkan. “Performa kami mungkin tidak tercermin dari hasil; tim ini luar biasa. Di hari lain, hasilnya akan berbeda,” katanya.
Khusus soal Odegaard, Arteta menilai kaptennya kini tampil lebih tajam di depan gawang. “Martin berkontribusi lewat gol-gol yang berdampak pada hasil, dan itulah yang kami inginkan dari para pemain penyerang kami, yaitu menjadi penentu, dan hari ini dia kembali membuktikannya,” tuturnya. Meski puas dengan kemenangan, ia menegaskan timnya seharusnya menyelesaikan laga dengan cara berbeda mengingat banyaknya peluang yang tercipta.
Rekor 13 Kemenangan Beruntun di Fase Grup
Kemenangan atas Napoli memperpanjang rekor Arsenal menjadi 13 kemenangan beruntun di fase grup Liga Champions. Catatan itu merupakan yang terpanjang kedua dalam sejarah kompetisi, hanya di bawah Bayern Munich yang pernah menorehkan 17 kemenangan beruntun antara Desember 2020 dan November 2023. Hasil ini sekaligus menjaga start sempurna Arsenal di awal musim.
Proses terciptanya gol kemenangan juga layak dicatat. Arsenal membangun serangan itu melalui 29 umpan, jumlah terbanyak kedua mereka dalam sebuah gol Liga Champions sejak pencatatan dimulai pada 2003-04. Rekor itu masih dipegang gol kedua Lucas Perez ke gawang Basel pada Desember 2016, yang dibangun melalui 33 umpan.
Odegaard sendiri menilai timnya tampil brilian meski penyelesaian akhir kurang tajam. “Kami memainkan sepak bola yang brilian dan seharusnya mencetak jauh lebih banyak gol, tetapi pada akhirnya kami berhasil,” katanya. Ia juga menekankan bahwa Arsenal terus bermain dengan pola pikir yang tepat, meski detail terakhir masih kerap terlewat.
Bagi Arsenal, hasil di Naples menjadi fondasi penting untuk perjalanan panjang mereka di kompetisi ini. Mereka tidak hanya meraih tiga poin, tetapi juga menunjukkan bahwa kualitas permainan mereka berada di level yang mampu menekan tim-tim besar Eropa. Tantangan berikutnya adalah mengubah dominasi semacam itu menjadi skor yang lebih meyakinkan.
Jika penyelesaian akhir bisa lebih efisien, Arsenal berpotensi menjadi salah satu tim yang paling sulit dihentikan di fase grup. Sebaliknya, keunggulan satu gol yang hanya berkat dominasi besar bisa menjadi pelajaran bahwa sepak bola tidak selalu menghargai statistik. Napoli pun akan mengingat laga ini sebagai malam di mana mereka bertahan habis-habisan dan nyaris mencuri satu poin.








