Pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente, menilai Lamine Yamal sedang berada di jalur untuk menjadi legenda sepak bola dunia. Pujian itu ia lontarkan tepat setelah Spanyol mengalahkan Ceko 3-1 di Oviedo pada lanjutan Liga Nations UEFA, laga di mana pemain muda Barcelona tersebut kembali mencatatkan namanya di papan skor.
Bagi De la Fuente, penampilan Yamal sudah bukan lagi sekadar kejutan sesaat. Sang pelatih menyebut pemainnya itu sebagai sosok yang terus membuatnya takjub sekaligus menjadi acuan di dalam tim nasional. Kemenangan atas Ceko sendiri membuat Spanyol tetap kokoh di puncak Grup A3 dengan raihan poin penuh dari tiga pertandingan yang sudah dijalani.

Jalannya Laga Spanyol vs Ceko di Oviedo
Spanyol tampil dominan sejak awal pertandingan dan menutup babak pertama dengan keunggulan dua gol. Gol pembuka lahir dari kaki Yamal, yang melepaskan tendangan melengkung khas kaki kiri dari sudut kanan kotak penalti setelah bertukar umpan dengan rekan setimnya di Barcelona, Dani Olmo. Rodri kemudian menggandakan keunggulan La Roja sebelum wasit meniup peluit turun minum.
Namun, jalannya pertandingan berubah drastis di babak kedua. Ceko memperkecil ketertinggalan melalui gol Jiri Slama dan mulai menekan pertahanan Spanyol, membuat tuan rumah tampak goyah. Harapan Ceko untuk menyamakan kedudukan akhirnya pupus setelah Ladislav Krejci menerima kartu merah, dan Mikel Merino memastikan kemenangan 3-1 lewat golnya di menit-menit akhir.
Hasil ini membuat Spanyol mengumpulkan poin maksimal dari tiga laga di Grup A3. Posisi puncak klasemen itu menjadi modal penting sebelum mereka melakoni laga tandang yang jauh lebih menantang pada hari Selasa.
Rekor Gol Lamine Yamal di Klub dan Timnas
Produktivitas Yamal dalam beberapa pekan terakhir tergolong luar biasa. Ia telah mengoleksi 12 gol dalam sembilan pertandingan terakhirnya jika dihitung bersama klub dan tim nasional. Rinciannya, empat gol untuk Spanyol di Liga Nations dan delapan gol untuk Barcelona di seluruh kompetisi.
Yang lebih menarik, hanya ada satu pertandingan dalam rentang tersebut yang ia lewati tanpa mencetak gol. Laga itu adalah kemenangan 3-1 Barcelona atas Sevilla di ajang LaLiga. Artinya, hampir setiap kali Yamal turun bermain, ia selalu punya andil langsung dalam mencetak angka bagi timnya.
Konsistensi semacam ini biasanya baru dimiliki pemain yang sudah matang secara pengalaman. Yamal menunjukkan hal itu di usia yang masih sangat muda, dan itulah yang membuat De la Fuente yakin bahwa versi terbaik sang pemain belum sepenuhnya terlihat. Menurutnya, masih banyak hal yang bisa ditunjukkan Yamal di masa depan.
Peluang Ballon d’Or dan Pujian De la Fuente
Pembicaraan soal masa depan Yamal tak lepas dari nama Piala Ballon d’Or. Upacara penghargaan bergengsi itu akan digelar di London, sekitar tiga pekan lagi, dan nama Yamal masuk dalam daftar nominasi. Sejumlah pengamat menyoroti peluangnya bersaing dengan pemain-pemain top lain, termasuk rekan senegaranya.
Ditanya soal kans tersebut, De la Fuente menjawab dengan nada percaya diri. Ia menyebut jika Yamal adalah satu-satunya pemain Spanyol di antara para nominasi, ia tak akan ragu menyebut Yamal sebagai yang terbaik di dunia. Namun karena ada pesaing dari Spanyol juga, De la Fuente menempatkan Yamal sebagai salah satu yang terbaik, sembari menegaskan bahwa pemainnya itu sedang menuju status pemain legendaris.
De la Fuente juga menegaskan bahwa Yamal tidak pernah berhenti membuat semua orang takjub. Ia menggambarkan Yamal sebagai pemain yang sangat berbakat, tumbuh dengan sangat pesat, dan telah menjadi acuan di tim nasional. Karena itu, menurut sang pelatih, pencapaian Yamal sudah selayaknya dirayakan.
Manajemen Beban dan Jadwal Menuju Kroasia
Meski menjadi bintang utama, Yamal tidak selalu dimainkan penuh. Dalam laga melawan Ceko, ia ditarik keluar saat jeda bersama Alex Baena. Keputusan itu diambil De la Fuente dengan pertimbangan menjaga kebugaran para pemain menyerangnya sebelum laga tandang ke Kroasia pada hari Selasa.
Perubahan tersebut berdampak pada performa Spanyol di babak kedua. La Roja hanya mencatatkan lima tembakan dengan nilai expected goals (xG) sebesar 0,75 setelah jeda. Sebagai perbandingan, di babak pertama mereka melepaskan 13 percobaan dengan xG 1,35.
De la Fuente menegaskan bahwa keputusan itu bukan bentuk perlakuan istimewa. Ia menyatakan memperlakukan Yamal persis sama seperti pemain lain, tanpa membeda-bedakan, karena semua pemain harus dijaga dengan porsi yang setara. Ia juga mengakui pertandingan bisa saja berjalan ke arah yang berbeda, tetapi pengurangan menit bermain Yamal dinilai perlu agar kondisinya tetap prima.
Apa Artinya bagi Spanyol dan Sepak Bola Dunia
Kepercayaan De la Fuente menunjukkan bahwa Yamal kini bukan lagi sekadar talenta yang perlu dijaga, melainkan tumpuan utama lini serang Spanyol. Status sebagai acuan tim nasional berarti ekspektasi publik terhadapnya akan terus meningkat di setiap pertandingan. Hal ini juga menandakan bahwa regenerasi skuad Spanyol berjalan lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Di sisi lain, kisah Yamal menyoroti persoalan yang makin sering muncul di sepak bola modern: padatnya jadwal pertandingan bagi pemain muda. Klub dan tim nasional kini dituntut bekerja sama mengatur menit bermain agar potensi pemain tidak habis sebelum waktunya. Cara De la Fuente mengelola beban Yamal bisa menjadi contoh bagaimana tim nasional menyeimbangkan ambisi meraih hasil dengan perlindungan jangka panjang terhadap pemainnya.
Laga tandang ke Kroasia nanti akan menjadi ujian berikutnya, baik bagi Spanyol yang ingin mempertahankan tren kemenangan maupun bagi Yamal yang diharapkan tetap produktif. Jika ia kembali mencetak gol, gelar sebagai pemain legendaris yang disematkan De la Fuente akan terasa semakin dekat untuk diwujudkan.
Kesimpulan
Kemenangan 3-1 atas Ceko menegaskan dua hal sekaligus: Spanyol masih perkasa di Grup A3, dan Lamine Yamal terus berkembang menjadi sosok yang sulit diabaikan. Dengan 12 gol dalam sembilan laga terakhir serta pujian terbuka dari pelatihnya sendiri, posisi Yamal sebagai salah satu pemain paling bersinar saat ini semakin sulit dibantah.
Yang tersisa sekarang adalah membuktikan bahwa konsistensi ini bisa bertahan lama, termasuk ketika tekanan semakin besar menjelang ajang penghargaan individu dan pertandingan-pertandingan berat berikutnya. Jika Yamal mampu menjawabnya, label legenda yang disebut De la Fuente bukan lagi sekadar pujian, melainkan sebuah keniscayaan.








