Dewan Kota Manchester tercatat baru menerima pemasukan sedikit di bawah £3 juta dari kesepakatan berbagi “super-profit” atas proyek-proyek pembangunan yang berdiri di atas tanah miliknya dan digarap oleh pemilik Manchester City. Kesepakatan super-profit Manchester Life itu diteken pada 2014, dengan skema bahwa dewan berhak mendapatkan pembayaran apabila keuntungan yang dikantongi Abu Dhabi United Group (ADUG) dari sejumlah proyek di Ancoats dan New Islington melampaui ambang batas tertentu.
Angka tersebut kini menjadi sorotan karena muncul bersamaan dengan vonis Premier League terhadap Manchester City. Prof Adam Leaver, salah satu penulis laporan Universitas Sheffield tahun 2022 soal hubungan dewan dengan ADUG, menilai kerahasiaan komersial dalam perjanjian itu membuat publik sulit menilai apakah dewan sudah memperoleh nilai terbaik dari lahan yang dilepasnya. Dewan sendiri menyatakan masih menantikan satu pembayaran lanjutan dalam waktu dekat, sekaligus menegaskan bahwa program regenerasi terkait telah memberi manfaat senilai £1,25 miliar bagi kota.

Fakta Utama: Kurang dari £3 Juta Masuk ke Kas Dewan
Pemasukan di bawah £3 juta tersebut berasal dari mekanisme yang dalam praktik properti dikenal sebagai overage, yaitu skema bagi hasil ketika nilai sebidang lahan naik melewati batas tertentu akibat pembangunan atau penjualan. Skema semacam ini lazim dipakai dalam kerja sama antara otoritas publik dan pengembang swasta, dan biasanya dirancang untuk memastikan pemerintah daerah tetap mendapat bagian dari lonjakan nilai lahan yang sebelumnya mereka miliki.
Dewan Kota Manchester menyebut angka itu belum final. Menurut mereka, satu pembayaran tambahan diperkirakan akan masuk dalam waktu dekat, sehingga total penerimaan dewan bisa bertambah dari posisi saat ini. Namun sampai sekarang belum ada keterangan resmi mengenai besar pembayaran lanjutan tersebut maupun dasar perhitungannya.
Untuk membela nilai kesepakatan, dewan menyajikan hitungan bahwa total pembayaran yang mereka terima setara dengan sekitar £26.000 per unit rumah. Menurut mereka, angka itu merepresentasikan imbal hasil di atas harga pasar untuk lahan yang sejak krisis keuangan 2008 justru gagal menarik minat pasar. Juru bicara dewan juga merinci capaian program tersebut, mulai dari 1.500 rumah baru, ratusan unit lain yang kini dalam tahap pembangunan, pelestarian dua pabrik tekstil bersejarah, 30.000 kaki persegi ruang komersial, hingga ribuan penghuni baru di kawasan itu.
Dewan menambahkan bahwa lebih dari 3.400 rumah telah selesai dibangun di kawasan tersebut oleh berbagai pengembang, termasuk rumah sewa sosial dan hunian dengan skema keterjangkauan. Mereka menyebut regenerasi Ancoats dan New Islington sebagai kisah sukses yang diakui secara internasional, salah satunya karena Ancoats pernah dinobatkan sebagai salah satu tempat terbaik untuk tinggal di dunia.
Latar Belakang: Dari Akuisisi 2008 hingga Kemitraan Manchester Life
Akar kerja sama ini bermula pada 2008, ketika Manchester City dibeli senilai £200 juta oleh ADUG, perusahaan milik Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. Sheikh Mansour merupakan anggota senior keluarga penguasa Abu Dhabi dan saat ini menjabat sebagai wakil presiden serta wakil perdana menteri Uni Emirat Arab (UEA). Pada dekade berikutnya, klub tersebut meraih tiga gelar Premier League pertamanya dari total delapan gelar yang kemudian dikoleksi.
Seiring perkembangan itu, ADUG dan Dewan Kota Manchester menjadi mitra dalam sebuah perusahaan bernama Manchester Life. Lewat kemitraan tersebut, ADUG memperoleh hak menyewa sejumlah lokasi pembangunan milik dewan di kawasan Manchester timur, tak jauh dari stadion klub. Dalam kerangka inilah kesepakatan overage atau bagi hasil super-profit itu disusun antara kedua pihak.
Laporan Manchester Offshored yang disusun Leaver pada 2022 mencatat sekitar 10 acre lahan dialihkan ke dalam kendali Manchester Life. Laporan itu juga memperkirakan penjualan properti senilai sekitar £112 juta telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang pada akhirnya dimiliki dari Abu Dhabi. Rencana awal Manchester Life bahkan membayangkan lebih dari 6.000 rumah dibangun dengan investasi hingga £1 miliar selama satu dekade.
Realitasnya, hingga kini baru sekitar 1.500 rumah yang terwujud di sembilan lokasi dalam apa yang disebut dewan sebagai “program regenerasi senilai £1,25 miliar”. Belum jelas apakah selisih antara hasil akhir dan rencana awal tersebut berdampak pada besaran pembayaran yang seharusnya diterima dewan dari skema overage.
Vonis 115 Dakwaan dan Sorotan Baru atas Hubungan ADUG-Dewan
Perhatian terhadap kerja sama ini meningkat tajam setelah Premier League mengumumkan bahwa Manchester City dinyatakan bersalah atas 115 dakwaan. Sejumlah dakwaan menyangkut dugaan skema pendanaan terselubung, yang disebut melibatkan pemilik klub dalam menambal kesepakatan sponsor dan komersial dengan dana pribadi mereka lebih dari £800 juta. Klub menolak semua pelanggaran dan telah mengajukan banding atas putusan tersebut.
Investigasi Premier League terhadap urusan keuangan klub sebenarnya dimulai pada 2018. Sejak itu, hubungan Dewan Kota Manchester dengan ADUG kembali menjadi bahan pemeriksaan publik, terutama karena keduanya terikat dalam perusahaan patungan yang mengelola lahan milik publik.
Pada Juli tahun ini, dewan mengungkapkan hasil tinjauan internal mengenai cara mereka mengelola dan memantau kesepakatan overage dengan para pengembang. Tinjauan itu menemukan “kelemahan dalam dokumentasi, pemantauan, dan jaminan, khususnya pada pengaturan overage yang bersifat historis”. Leaver menanggapi temuan tersebut dengan nada skeptis. “Tidak jelas apa yang memicu kekhawatiran soal overage ini, tetapi kelihatannya tidak bagus,” ujarnya.
Soal Transparansi: Jersey, Perusahaan Terkait, dan Ambang Batas yang Dirahasiakan
Leaver menyoroti bahwa sangat sulit menakar seberapa menguntungkan kesepakatan itu bagi dewan. Pasalnya, ia tidak dapat melihat berapa besar keuntungan yang dikirim ke ADUG dari perusahaan-perusahaan terafiliasi yang terdaftar di Jersey, yurisdiksi yang jauh lebih tertutup soal informasi keuangan perusahaan. “Jadi kami tidak bisa membandingkan berapa keuntungan yang diterima dewan dibandingkan mitranya, ADUG,” katanya.
Ia menambahkan, syarat-syarat perjanjian overage disembunyikan dari pandangan publik. Akibatnya, tidak mungkin mengetahui berapa besar keuntungan yang harus lebih dulu diraup ADUG sebelum perusahaan itu berkewajiban membagikan sebagiannya kepada dewan. Tanpa mengetahui ambang batas itu, publik juga tidak punya cara untuk menilai apakah pembayaran di bawah £3 juta tersebut wajar atau tidak.
Dewan berdalih kesepakatan dibuat pada masa sulit, tepat setelah krisis kredit dan keruntuhan finansial 2008, ketika “minat pasar terhadap kawasan itu sangat kecil”. Juru bicara dewan menegaskan setiap bidang tanah dinilai oleh pakar independen dan “kesepakatan terbaik secara keseluruhan telah dicapai untuk tiap lokasi”.
Analisis: Siapa Sebenarnya yang Menciptakan Nilai di Ancoats?
Inti perdebatan terletak pada siapa yang layak dikreditkan atas lonjakan nilai lahan di Manchester timur. Sir Richard Leese, yang memimpin dewan kota saat kesepakatan itu dibuat dan kini menjabat presiden kehormatan Manchester City, menyatakan kepada BBC bahwa “investasi dari Abu Dhabi itulah yang menciptakan nilai”. Argumen ini menjadi dasar pembenaran atas syarat-syarat yang diberikan kepada ADUG.
Leaver menolak narasi itu. Menurutnya, percakapan yang ia jalani menunjukkan hal sebaliknya, yakni ada cukup banyak pihak yang tertarik mengembangkan lahan tersebut. Ia mencatat pembangunan di Manchester sempat “menyusut hingga sekitar 2012”, tetapi pasar “mulai bangkit sejak 2013”, tepat di sekitar waktu kemitraan Manchester Life dibentuk.
Ia menunjuk pada apa yang disebutnya “investasi signifikan” pada 2014 dan 2015, pertumbuhan penduduk baru di Ancoats, proyek Royal Mills, pembangunan Ice Plant, serta revitalisasi Cutting Room Square. Menurutnya, bisnis-bisnis kecil bergaya kekinian juga mulai masuk ke kawasan itu, menandakan gentrifikasi sudah berjalan sebagai efek limpahan dari keberhasilan regenerasi Northern Quarter, bahkan sebelum perjanjian Manchester Life diteken. “Nilai lahan sedang naik dan para pengembang mulai menemukan kembali peluang menguntungkan serta berani mengambil risiko lebih besar pasca krisis keuangan,” tambahnya.
Konteks Lebih Luas: Investasi UEA dan Tekanan Politik di Inggris
Buntut investigasi Premier League memunculkan kekhawatiran bahwa investasi UEA yang lebih luas di proyek-proyek Inggris bisa ikut terdampak. Media Bloomberg melaporkan pejabat Emirat memperingatkan bahwa kasus ini “bisa berpengaruh terhadap hubungan bilateral antarnegara”. Peringatan itu menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi sekadar urusan sepak bola atau tata kelola lahan kota.
Sebelum peringatan tersebut muncul, Perdana Menteri Andy Burnham yang menjabat Wali Kota Metropolitan Manchester sejak 2017 hingga masuk ke Downing Street pada musim panas ini, mengatakan ia akan “sangat khawatir” jika ADUG menarik diri dari Manchester akibat investigasi Premier League. Sikap itu memicu kritik dari lawan politiknya. Menteri Olahraga bayangan, Louie French, dilaporkan menuduh Burnham “secara terbuka membela para pemilik klub”.
Menanggapi kritik tersebut, Burnham kini menyatakan akan mempublikasikan seluruh rincian pertemuannya dengan Manchester City dan ADUG selama ia memimpin Manchester. “Saya diminta oleh pemimpin oposisi untuk mempublikasikan detail pertemuan saya, dan saya dengan senang hati akan melakukannya,” ujarnya. “Saya akan secara jelas membeberkan segala hal yang saya lakukan bersama mereka selama menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester.”
Penutup
Hingga kini, kesepakatan super-profit Manchester Life baru menghasilkan penerimaan di bawah £3 juta bagi Dewan Kota Manchester, dengan satu pembayaran lanjutan yang disebut akan segera menyusul. Dewan mempertahankan bahwa skema itu menguntungkan kota, sementara para pengkritik menilai tertutupnya rincian perjanjian membuat penilaian independen hampir mustahil dilakukan.
Yang paling menentukan ke depan bukan hanya besaran pembayaran berikutnya, melainkan apakah dewan bersedia membuka syarat-syarat overage yang selama ini tersembunyi. Selama ambang batas keuntungan dan aliran dana melalui perusahaan di Jersey tetap tidak terlihat, pertanyaan tentang siapa yang paling diuntungkan dari regenerasi Ancoats akan terus menggantung.








