Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan terbuka terhadap reformasi FIFA dan mengusulkan agar cara kerja organisasi sepak bola dunia itu ditinjau secara eksternal oleh pihak independen. Usulan tersebut ia sampaikan melalui surat resmi yang dialamatkan kepada para anggota Dewan FIFA dan seluruh asosiasi nasional anggotanya. Dalam surat itu, Infantino menjelaskan bahwa proses independen tersebut nantinya bertugas “merekomendasikan berbagai perbaikan yang mungkin dilakukan”.
Langkah ini muncul di tengah tekanan yang meningkat tajam terhadap Infantino akibat proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akhirnya dibatalkan. Rencana itu sempat memicu reaksi keras karena berisi penjualan sebagian saham kompetisi milik FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Perubahan sikap Infantino pun dibaca sebagai upaya meredakan krisis kepercayaan yang kini membelit kepemimpinannya.

Isi Surat: Tinjauan Eksternal dan Konsultasi Tata Kelola
Dalam suratnya, Infantino menyebut bahwa proses tinjauan independen itu akan dijalankan sebelum Dewan FIFA menggelar pertemuan pada bulan berikutnya. Ia juga mengusulkan adanya konsultasi mengenai “bagaimana pengambilan keputusan FIFA dapat semakin diperkuat”. Konsultasi tersebut disebut akan melibatkan konfederasi, asosiasi anggota, serta “para pemangku kepentingan yang relevan”.
Menurut Infantino, pembahasan itu akan mencakup usulan mengenai peran presiden FIFA. Selain itu, konsultasi juga akan membahas “cara-cara praktis untuk memperkuat transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas dalam inisiatif-inisiatif strategis yang utama”. Dengan kata lain, cakupan tinjauan ini tidak hanya menyentuh persoalan teknis, tetapi juga menyangkut siapa yang memegang kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu dipertanggungjawabkan.
Nada surat tersebut terkesan menenangkan. Infantino menulis, “Dalam beberapa pekan terakhir, saya meluangkan waktu untuk mendengarkan sebelum menulis kepada Anda.” Kalimat itu memberi sinyal bahwa ia berusaha menunjukkan kesediaan mendengar kritik, bukan sekadar mempertahankan posisinya. Sikap ini berbeda jauh dari pembelaan keras yang ia lontarkan pada pekan-pekan sebelumnya.
Latar Belakang: Kontroversi Rencana FIFA Forward Enterprise
Krisis ini berakar pada proposal FFE yang kini telah gugur. Lewat skema tersebut, FIFA berencana membentuk perusahaan baru untuk mengelola hak komersial dan hak penjualan tiket seluruh kompetisinya, termasuk Piala Dunia. Dari perusahaan itu, sebanyak 21 persen saham akan dijual kepada sebuah perusahaan investasi swasta.
Rencana itu memicu gelombang penolakan luas karena dianggap berpotensi menyerahkan kendali atas aset terbesar sepak bola dunia kepada pihak ketiga. Dalam suratnya, Infantino membantah tafsir tersebut. Ia menegaskan bahwa rencana FFE “tidak melibatkan penyerahan kendali atau otoritas FIFA atas keputusan-keputusan olahraga. Jelas sekali!”
Infantino juga menjelaskan kronologi mengapa polemik ini meledak. Katanya, “Proposal itu masuk ke ruang publik sebelum proses institusional yang direncanakan FIFA selesai, dan sebelum bisa dipresentasikan secara utuh kepada Dewan dan asosiasi anggota. Saya menyadari bahwa tanpa konteks yang lengkap, hal ini menimbulkan kekhawatiran dan menciptakan kesan bahwa keputusan sudah diambil. Padahal belum.”
Ia pun menegaskan bahwa “proses demokrasi, independensi, dan otoritas olahraga tidak pernah untuk dijual. Semuanya tidak untuk dijual dan tidak akan pernah dijual.” Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan atas dugaan bahwa FIFA telah bergerak terlalu jauh menuju komersialisasi. Infantino juga menegaskan bahwa dirinya tetap “sepenuhnya berkomitmen memimpin FIFA dan yakin dengan apa yang bisa kita capai bersama”.
Tekanan dari UEFA, Concacaf, dan FA Inggris
Surat Infantino terbit setelah UEFA dan Concacaf—konfederasi untuk Eropa serta Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia—menuntut agar FIFA membayarkan 10 juta dolar AS kepada seluruh 211 asosiasi anggotanya. Dana sebesar itu, menurut mereka, seharusnya diambil dari cadangan kas yang dimiliki FIFA. Tuntutan tersebut menambah panjang daftar desakan yang harus dihadapi Infantino dari dalam tubuh sepak bola dunia.
Tekanan juga datang dari internal organisasi. Ketua Football Association (FA) Inggris Debbie Hewitt, yang juga menjabat sebagai wakil presiden FIFA, meminta Infantino merilis seluruh dokumen terkait rencana kontroversialnya. Ia bahkan menyerukan agar FFE ditinjau secara independen. Permintaan itu menjadi tanda bahwa kritik tidak lagi hanya datang dari luar, tetapi juga dari jajaran petinggi FIFA sendiri.
Sebelumnya, UEFA selaku badan sepak bola Eropa mulai menyiapkan proses hukum pidana terhadap Infantino di pengadilan Amerika Serikat terkait rencana FFE, sekaligus menuntut seluruh dokumen dibuka. FIFA merespons dengan menuduh UEFA melakukan “kampanye buruk terhadap FIFA dan kepemimpinannya”, dan menantang langkah litigasi tersebut. Ketegangan antara kedua lembaga ini pun menjadi salah satu latar paling panas dalam krisis yang sedang berlangsung.
Arti Perubahan Nada Infantino
Selama beberapa pekan, Infantino bertahan dengan sikap menantang di tengah pemberontakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kepresidenannya. Karena itu, perubahan nada dalam surat terbarunya dianggap sebagai sinyal penting bahwa ia mungkin merasa tidak punya banyak pilihan selain berkompromi bila ingin kembali terpilih pada Maret mendatang. Pergeseran ini menandai babak baru dalam upayanya mempertahankan kekuasaan.
Pada 15 Oktober, Dewan FIFA dijadwalkan menggelar pertemuan pertama sejak krisis ini meletus. Infantino jelas berharap momen itu bisa sedikit meredakan tekanan yang menimpanya. Namun, belum jelas apakah kesediaannya menerima sejumlah perubahan akan cukup untuk merangkul kembali pihak-pihak yang kini berbalik menentangnya.
Banyak hal bergantung pada seberapa rinci kerangka acuan tinjauan eksternal yang ia usulkan. Sebab, hingga saat ini Infantino belum menyetujui adanya tinjauan serupa terhadap rencana FFE-nya sendiri. Padahal, justru langkah itulah yang menjadi salah satu tuntutan utama para pengkritiknya.
Tuntutan Reformasi dan Peta Jalan Pemilihan 2027
Di luar soal FFE, para pengkritik Infantino menuntut perombakan besar atas tata kelola FIFA. Mereka menginginkan pembatasan kekuasaan presiden, misalnya dengan menetapkan masa jabatan maksimal satu periode. Tuntutan lain adalah pemisahan yang lebih tegas antara posisi presiden dan administrasi FIFA.
Selain itu, muncul desakan agar FIFA memberi penekanan lebih besar pada isu hak asasi manusia dan keberlanjutan, serta melakukan redistribusi atas cadangan kasnya. Sebagian kalangan bahkan meminta Infantino mundur dari jabatannya. Semua tuntutan ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar satu proposal yang gagal, melainkan menyangkut arah kepemimpinan FIFA secara keseluruhan.
Infantino sendiri berencana mencalonkan diri untuk keempat kalinya pada Maret 2027. Para penentangnya memiliki waktu hingga 18 November untuk mengajukan kandidat alternatif. Tenggat itu membuat dinamika politik di FIFA berpotensi berlangsung sengit dalam beberapa bulan ke depan.
Meski FFE gagal, Infantino menegaskan bahwa kegagalan tersebut “tidak mengurangi ambisi kami atau tanggung jawab kami untuk mengembalikan lebih banyak kesuksesan FIFA ke sepak bola”. Ia menambahkan, “Kami akan terus menjajaki cara-cara berkelanjutan untuk menumbuhkan sumber daya FIFA dan memperluas dukungan pembangunan serta solidaritas bagi setiap asosiasi anggota.” Menurutnya, “Yang berubah bukan ambisinya, melainkan kekuatan proses di mana ide-ide besar dikembangkan, diuji, dan diputuskan.”
Jalan Panjang Reformasi FIFA
Usulan tinjauan eksternal dan konsultasi tata kelola menandai pergeseran sikap yang signifikan dari Infantino, tepat ketika posisinya tengah berada di titik paling rapuh. Namun, reformasi FIFA yang sesungguhnya akan diukur dari hal-hal yang lebih konkret: seberapa luas mandat tinjauan tersebut, apakah dokumen FFE benar-benar dibuka, dan sejauh mana kekuasaan presiden bersedia dibatasi. Pertemuan Dewan FIFA pada 15 Oktober serta tenggat pencalonan pada 18 November akan menjadi dua momen penentu arahnya.
Dengan kata lain, surat itu baru menjadi pembuka, bukan penyelesaian. Bagi Infantino, menerima perubahan bisa jadi harga yang harus dibayar demi bertahan; bagi para pengkritiknya, perubahan hanya bermakna bila disertai komitmen yang bisa diawasi publik. Bagaimana keduanya bertemu di tengah, hanya waktu yang akan menjawab.








