Pierre Sage meluapkan kemarahannya atas kekalahan Crystal Palace dari Man City 4-1 di Selhurst Park. Manajer The Eagles itu menilai timnya bermain dengan energi rendah, terutama setelah tiga pergantian pemain justru membuat permainan Palace semakin melemah. Ia tidak berusaha menyembunyikan kekecewaannya saat berbicara kepada awak media setelah laga usai.
Kekalahan ini merupakan yang kedua beruntun bagi Palace di awal musim Premier League, dan hasil tersebut langsung menjerumuskan mereka ke dasar klasemen. Manchester City, di sisi lain, memanfaatkan kemenangan ini untuk naik ke puncak klasemen. Ironisnya, satu-satunya gol yang mampu dicetak Palace sejauh musim ini lahir dari pantulan punggung Gianluigi Donnarumma, bukan dari skema serangan yang terorganisasi.

Kronologi Kekalahan Crystal Palace dari Man City
Manchester City tampil sangat dominan sejak awal laga di hadapan pendukung Selhurst Park. Rayan Cherki dan Erling Haaland sama-sama mencetak dua gol alias brace, memastikan kemenangan telak 4-1 atas tuan rumah. Kemenangan ini sekaligus mengantar tim asuhan Enzo Maresca tersebut bercokol di puncak klasemen Premier League.
Bagi Sage, kekalahan 4-1 ini merupakan pengalaman yang jarang terjadi sepanjang karier kepelatihannya. Ini baru kedua kalinya tim asuhannya kebobolan empat gol dalam satu pertandingan. Sebelumnya, ia juga mengalami kekalahan 4-1 ketika menangani Lyon melawan Paris Saint-Germain pada April 2024. Terulangnya kekalahan telak ini menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi Palace tidak bisa dianggap sepele.
Catatan Statistik yang Membelit Palace di Awal Musim
Kekalahan dari City bukan sekadar angka di papan skor, melainkan juga memperpanjang tren buruk Palace di laga pembuka kandang. Palace kini tercatat kalah dalam laga pembuka kandang di 13 musim Premier League. Artinya, hanya West Ham yang lebih sering kalah dalam laga pembuka kandang, yakni 14 musim, dibandingkan Palace sepanjang sejarah kompetisi.
Di sisi lain, City kembali membuktikan konsistensi mereka dalam memenangkan laga tandang pembuka musim. Klub asal Manchester itu sudah melakukannya dalam 17 kampanye Premier League, hanya kalah dari Chelsea yang mencatatkan 21 musim. Dengan torehan tersebut, City kini sejajar dengan Liverpool dalam hal jumlah kemenangan pada laga tandang pembuka musim.
Dengan dua kekalahan beruntun, Palace kini menjadi juru kunci klasemen sementara Premier League. Kondisi ini tentu jauh dari harapan para pendukung yang ingin melihat tim kesayangannya segera bangkit. Sementara itu, City justru bertengger nyaman di puncak klasemen berkat hasil positif pada pertandingan ini.
Energi Anjlok Usai Pergantian Pemain, Sage Kecewa
Sage sebenarnya sudah mencoba mengubah jalannya pertandingan dengan memasukkan tiga rekrutan baru musim panas ini dari bangku cadangan. Dwight McNeil, Zavier Gozo, dan Evann Guessand diturunkan untuk memberikan dampak instan bagi permainan Palace. Namun, alih-alih meningkatkan intensitas serangan, kehadiran mereka justru tidak menghasilkan efek yang diharapkan.
“Saya pikir kami mampu bermain selama 60 menit dan tetap bertahan dalam pertandingan. Saat saya melakukan pergantian pemain, energi tim justru menurun. Saya agak marah dengan hal itu,” ujar Sage kepada Sky Sports. Ia menegaskan bahwa kemarahan itu ditujukan kepada tim sekaligus dirinya sendiri. “Kami bersama-sama, saya bersama tim saya setiap saat,” pungkasnya.
Proses Panjang yang Tidak Bisa Ditawar
Sage juga menyoroti banyaknya peluang yang diciptakan timnya tetapi gagal dikonversi menjadi gol. Menurutnya, sangat sulit untuk tetap memelihara harapan ketika melawan tim sekelas Man City jika peluang tidak dimanfaatkan dengan baik. “Saat Anda mengganti pemain, Anda membutuhkan lebih banyak energi, tetapi saya tidak menemukan itu,” keluhnya.
Sage menegaskan bahwa Palace sedang dalam proses membangun tim dan harus terus bekerja keras. Meski begitu, ia menolak menerima kekalahan ini sebagai sesuatu yang wajar. “Kami pantas mendapatkan hasil yang lebih baik. Ada dua situasi negatif di akhir pertandingan,” katanya.
Salah satu faktor yang ia soroti adalah persiapan pramusim yang terlambat. Menurut Sage, keterlambatan tersebut membuat para pemain kesulitan menghadapi intensitas pertandingan di awal musim. “Anda tidak bisa mengganti rasa lelah dengan energi yang rendah,” ujarnya, menegaskan bahwa pergantian pemain seharusnya menghadirkan energi baru, bukan justru menurunkan ritme permainan.
Ujian di Craven Cottage dan Deadline Transfer
Palace tidak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan ini. Mereka dijadwalkan bertandang ke markas Fulham pada 5 September dalam lanjutan Premier League. Laga itu menjadi kesempatan pertama bagi tim asuhan Sage untuk meraih poin perdana musim ini, dan tekanan akan semakin besar jika mereka kembali gagal.
Sebelum menghadapi Fulham, klub masih memiliki pekerjaan rumah lain, yaitu memanfaatkan bursa transfer yang akan ditutup pada Selasa mendatang. Sage dan jajaran manajemen Palace diharapkan segera menambah amunisi skuad agar tim punya lebih banyak opsi di lapangan. Pemain baru diharapkan mampu menyuntikkan energi dan kualitas yang selama ini kurang terlihat dalam dua laga pertama.
Kekalahan Crystal Palace dari Man City 4-1 menjadi alarm keras bagi seluruh elemen klub. Sage sendiri sadar bahwa timnya sedang dalam proses, tetapi ia menolak menjadikan itu sebagai alasan untuk terus menampilkan performa buruk. Dengan bursa transfer yang segera ditutup, Palace harus segera berbenah agar tidak semakin terpuruk di klasemen.
Laga melawan Fulham akan menjadi ujian sejauh mana Palace mampu memperbaiki diri. Akankah The Eagles bangkit dan membawa pulang poin perdana? Atau justru kembali menuai kekecewaan? Semua akan terjawab di Craven Cottage pada awal September nanti.








