Tony Pulis menilai Manchester City membutuhkan mentalitas kepungan menjelang lawatan ke markas Liverpool di Anfield. Dalam kolomnya untuk BBC Sport, ia menegaskan bahwa jika dirinya kini yang menangani City, satu pesan utama akan ia tanamkan ke seluruh skuad: tidak ada yang akan menyukai kami, tetapi kami tidak peduli. Pesan itu, menurutnya, harus menjadi fondasi cara berpikir pemain maupun suporter sepanjang pekan ini.
Kolom tersebut lahir di tengah situasi yang tidak nyaman bagi City, setelah klub itu dinyatakan bersalah melanggar aturan finansial Premier League. Pada saat yang sama, Liga Primer kembali bergulir akhir pekan ini dengan sorotan utama tertuju pada satu pertandingan di Anfield. Para pemain City baru saja kembali dari tugas internasional dan langsung masuk ke pusaran persoalan di luar lapangan yang telah berubah menjadi kegaduhan media.

Mentalitas Kepungan yang Diminta Tony Pulis
Pulis mengaku selalu menikmati posisi sebagai pihak yang dianggap lemah. Ia senang membuktikan bahwa banyak orang salah menilai dirinya dan timnya. Karena itu, ia menuntut hal serupa dari skuad dan suporter City: sebuah mentalitas kepungan untuk menunjukkan bahwa terlepas dari apa yang terjadi di luar lapangan, di dalam lapangan dan di tribun mereka menghormati klub serta bersedia terus bertarung.
Menurut Pulis, City akan menjadi sasaran cemoohan hampir semua pihak lain. Namun justru di situlah peluang besar terbuka bagi para pemain. Mereka punya kesempatan memperlihatkan persatuan dan kebersamaan, dimulai pada laga tandang melawan Liverpool hari Minggu.
Tugas Enzo Maresca Menjaga Fokus Skuad
Bagi Pulis, langkah pertama yang harus diambil Enzo Maresca adalah menenangkan para pemainnya. Manajer City itu perlu meyakinkan skuad bahwa klub tidak akan mundur sedikit pun dalam membela posisinya sendiri, termasuk posisi para pemain, staf, dan suporter. Setelah rasa aman itu terbentuk, barulah tuntutan berikutnya berlaku bagi semua orang di ruang ganti.
Tuntutan itu sederhana: berkonsentrasi pada hal yang membuat mereka dibayar, yaitu memenangkan pertandingan. Pulis menegaskan tidak boleh ada distraksi atau pertanyaan yang tidak berkaitan dengan laga yang sedang dijalani. Alasan apa pun soal apa yang terjadi di luar lapangan, katanya, tidak boleh ditoleransi, dan itu akan menjadi kata terakhirnya mengenai perkara ini.
Anfield dan Tekanan dari Tribun Lawan
Premier League kembali bergulir akhir pekan ini dan perhatian utama jatuh pada satu pertandingan, yakni di Anfield. Selain harus bersiap menghadapi laga sebesar itu, para pemain City datang dari tugas internasional dan langsung berhadapan dengan pertempuran di luar lapangan yang telah menjelma hiruk-pikuk media. Tuduhan demi tuduhan terasa terus mengalir, dengan jari-jari menunjuk dari berbagai arah.
Pulis menilai gelombang kritik terhadap klub yang telah mendominasi Premier League lebih dari satu dekade itu tak ada habisnya. Setiap capaian positif City selama periode yang dipersoalkan maupun sesudahnya seolah dihapus begitu saja. Meski demikian, klub tetap teguh membantah seluruh tuduhan, sehingga pertanyaan berikutnya adalah bagaimana posisi Maresca dan para pemainnya menghadapi semua ini.
Jawabannya, menurut Pulis, berawal dari kesadaran bahwa para pemain sendiri tidak terlibat dalam tuduhan pelanggaran aturan finansial tersebut. Mereka tetap harus paham bahwa suporter di semua kandang lawan akan menuntut darah mereka. City telah menjadi tim yang setiap kali bermain membuka kesempatan bagi para pengkritik untuk menyerang dari segala sudut, termasuk dari media yang sedang berada dalam kondisi panas.
Dampak bagi Reputasi Klub Jika Putusan Ditegakkan
Pulis tidak hanya berbicara soal dampak di atas lapangan. Ia mengingatkan bahwa jika putusan mengenai pelanggaran aturan finansial Premier League itu ditegakkan, konsekuensinya akan sangat berat bagi klub dan reputasinya. Harga yang harus dibayar bukan cuma soal sanksi, tetapi juga cara klub dipandang publik dan para pesaingnya.
Karena itu, ia menilai perlu ada perhatian yang lebih besar terhadap aturan-aturan tersebut sekaligus keadilannya. Alasannya, sepak bola profesional di level teratas kini didominasi oleh investasi finansial raksasa. Aturan yang ada mesti dibaca dalam konteks itu, bukan sebagai ketentuan yang berdiri sendiri di luar kenyataan pasar.
Apakah Aturan FFP Masih Adil?
Salah satu contoh yang ia angkat adalah pasar transfer. Pulis menyebut bukan hal aneh bila sekitar satu miliar pound berpindah antarklub di Inggris dan berbagai belahan dunia dalam setiap jendela transfer. Sementara pemain papan atas dibeli dan dijual dengan harga lebih dari 100 juta pound, akademi-akademi kecil justru terus dijarah klub-klub besar.
Klub besar bisa memborong pemain muda terbaik dengan biaya kompensasi yang jauh lebih kecil, lalu memoles mereka dan menjualnya kembali dengan harga berlipat. Pulis menyoroti bahwa keuntungan itu tidak diatur oleh aturan Financial Fair Play. Itu, katanya, salah satu cara menyikapi FFP, tetapi apakah cara tersebut baik bagi sepak bola atau bagi pemain yang terlibat?
Sepanjang bertahun-tahun pengelolaan Premier League, ada klub yang melanggar aturan FFP yang berlaku, dan sebagian di antaranya telah dihukum. Pulis yakin masih ada pihak yang belum tertangkap. Karena pelanggaran terus berulang, ia mempertanyakan apakah aturan saat ini sudah tepat atau justru perlu diubah. Risikonya, mengubah aturan bisa mendorong klub mencari cara lain atau celah demi melepas belenggu finansial yang sekarang ada.
Klub Cerdas dan Masa Depan Kepemilikan Sepak Bola
Pulis menilai uang yang beredar di sepak bola saat ini luar biasa besar. Korporasi raksasa, miliarder, bahkan negara membeli klub dan ingin menanamkan lebih banyak investasi, tetapi tidak selalu bisa melakukannya. Era pemilik bisnis lokal yang membeli klub di daerahnya sendiri sudah lewat.
Di Premier League, Tony Bloom di Brighton dan Matthew Benham di Brentford disebut sebagai yang terakhir bertahan. Di Championship, keluarga Coates di Stoke City dan Steve Gibson di Middlesbrough termasuk sedikit pihak yang pernah merasakan kompetisi kasta teratas.
Klub-klub papan atas selalu punya kekuatan finansial untuk bertahan di puncak, namun Pulis menekankan pentingnya tersedia jalan bagi orang-orang cerdas di klub tanpa dana besar atau sejarah besar untuk berperan penting di liga terbaik dunia. Brighton, Bournemouth, dan Brentford membuktikan hal itu mungkin. Mereka meraih kesuksesan lewat kecerdasan, tanpa label klub besar.
Karena itu, Pulis menilai aturan seharusnya memberi penghargaan kepada setiap klub yang cerdas. Melakukan hal yang benar semestinya membuka kesempatan bagi siapa pun untuk bersaing di level tertinggi. Hal ini pula yang menurutnya layak menjadi bahan refleksi di tengah sorotan negatif yang kini tertuju kepada Manchester City.
Inti pesan Pulis cukup jelas: di tengah tekanan di luar lapangan, Manchester City perlu menyatukan pemain dan suporter lewat mentalitas kepungan. Maresca dituntut memastikan ruang ganti tetap fokus pada pertandingan, dimulai dari laga berat di Anfield, sementara klub terus membela posisinya. Sepak bola, menurutnya, tetap harus dimenangkan di atas lapangan, bukan di kolom komentar atau pemberitaan.
Di sisi lain, Pulis melempar pertanyaan yang jauh lebih besar soal arah Financial Fair Play dan keadilan kompetisi. Selama aturan tidak mampu memberi ruang bagi klub kecil yang dikelola cerdas, perdebatan soal pelanggaran dan hukuman akan terus berulang. Kolom ini disampaikannya kepada Chris Bevan dari BBC Sport.