Faktor Anfield Memudar, Liverpool Tanpa Kemenangan

Faktor Anfield yang selama ini menjadi momok bagi tim-tim tamu perlahan mulai pudar. Liverpool masih belum meraih satu pun kemenangan di kandang sendiri di ajang Premier League musim ini, dan puncaknya adalah kekalahan 0-3 dari Manchester City yang datang ke Merseyside dengan catatan rekor 100 persen. Andoni Iraola tentu paham betul bahwa jika masa baktinya di Liverpool ingin berbuah sukses, ia wajib mengembalikan Anfield sebagai benteng yang sulit ditaklukkan.

Sayangnya, hingga kini perjuangan tersebut masih jauh dari kata selesai. Liverpool sebenarnya tampil menjanjikan di sebagian besar laga melawan City sebelum Ryan Gravenberch diusir dari lapangan pada menit ke-62, dan sejak saat itu permainan mereka runtuh. Kekalahan ini sekaligus mengakhiri catatan tak terkalahkan Iraola, yang sebelumnya bertahan selama 24 pertandingan Premier League sejak Januari dengan rincian 10 kemenangan dan 13 hasil imbang, termasuk ketika ia masih menangani Bournemouth.

Anfield Memudar

Kartu Merah Gravenberch dan Dua Wajah Liverpool

Menurut Iraola, pertandingan melawan Manchester City sesungguhnya terbagi menjadi dua babak yang berbeda: sebelum kartu merah dan sesudahnya. Ia menegaskan bahwa selama 60 menit pertama, para pemainnya tampil sangat baik dan mampu menyulitkan tim tamu. Namun setelah Gravenberch keluar, kualitas City di atas lapangan menjadi terlalu sulit diimbangi.

Pernyataan itu ia sampaikan langsung dalam wawancaranya dengan Match of the Day. Menurutnya, pada fase kedua pertandingan, City memang jauh lebih unggul dibandingkan Liverpool. Artinya, kartu merah tersebut bukan sekadar insiden kecil, melainkan titik balik yang menentukan arah hasil akhir.

Bagi Liverpool, hasil ini memperpanjang catatan buruk di ajang liga di hadapan pendukung sendiri. Musim ini mereka tercatat belum menang dalam tiga laga kandang Premier League, meskipun di kompetisi lain seperti Liga Champions dan Carabao Cup, Anfield masih mampu mereka kuasai. Menariknya, ini baru kali kedua Liverpool mengalami situasi serupa, dan jika ditelusuri lebih jauh, rentetan tanpa kemenangan di kandang sebenarnya sudah dimulai sejak musim lalu.

Statistik Anfield yang Menurun dari Musim ke Musim

Bila ditarik mundur ke awal tahun, Liverpool hanya mampu memenangi empat dari 13 pertandingan Premier League di Anfield. Dalam periode yang sama, mereka justru mengumpulkan lebih banyak kemenangan saat bermain di kandang lawan. Data tersebut menunjukkan bahwa performa kandang Liverpool terus menurun secara bertahap sejak musim 2023-24, meskipun perlu dicatat bahwa jumlah pertandingan musim ini masih sangat sedikit sehingga belum bisa dijadikan patokan mutlak.

Di sisi lain, reputasi Anfield sebagai tempat yang menakutkan sebenarnya masih tercatat dalam sejarah Premier League. Tim tamu memiliki persentase kemenangan paling rendah di Anfield, yakni hanya 12,5 persen, lebih kecil dibandingkan stadion mana pun dalam sejarah kompetisi ini. Namun pertanyaannya, apakah reputasi itu kini mulai luntur seiring hasil-hasil terbaru?

Catatan tanpa kemenangan di liga kini mencapai lima pertandingan kandang beruntun dengan rincian empat kali imbang dan satu kali kalah. Rentetan tersebut membuat Liverpool kehilangan poin berharga di hadapan publik sendiri, sesuatu yang jelas tidak bisa dibiarkan berlarut-larut jika mereka ingin tetap bersaing di papan atas.

Warnock, Scholes, dan Butt Soroti Mentalitas Liverpool

Mantan bek Liverpool, Stephen Warnock, menilai bahwa masalahnya bukan sekadar taktik atau kualitas individu. Dalam pandangannya, tim-tim terbaik dunia selalu menyulitkan lawan, sedangkan Liverpool saat ini justru sebaliknya. Ia bahkan menyebut Liverpool sebagai lawan yang mudah ditaklukkan karena memiliki terlalu banyak pemain bersikap “baik” di lapangan.

Warnock menegaskan bahwa sisi mentalitas itu harus segera diubah. Menurutnya, Liverpool masih memiliki banyak pekerjaan rumah dan saat ini kekurangan sosok pemimpin, kecuali Virgil van Dijk yang terlihat terus memberikan instruksi kepada rekan-rekannya.

Kritik serupa datang dari mantan gelandang Manchester United, Paul Scholes, dalam podcast The Good, the Bad and the Football pada September lalu. Ia mengenang masa ketika tim-tim tamu datang ke Liverpool dan langsung merasa tertekan oleh atmosfer pendukung, terutama di era Jurgen Klopp. Menurut Scholes, pengaruh besar tersebut kini terasa menghilang dan para penggemar belum sepenuhnya menyatu dengan apa yang sedang terjadi di klub.

Rekan setim Scholes dahulu, Nicky Butt, menambahkan bahwa dulu tim-tim seperti Fulham sudah merasa kalah sebelum menaiki tangga stadion ketika harus bertandang ke Anfield. Kini, menurutnya, tim tamu justru lebih banyak menguasai bola dan tampil jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya.

Mandulnya Lini Depan dan Absennya Tiga Penyerang Utama

Persoalan Liverpool musim ini cukup jelas terlihat dari statistik. Meskipun mampu meraih dua kemenangan di kandang lawan, mereka kini berada di posisi kesembilan klasemen. Yang paling mencolok, Liverpool baru mencetak tujuh gol di liga musim ini, hanya dua di antaranya lahir di Anfield, dan hanya tujuh tim lain yang mencetak lebih sedikit.

Faktor cedera ikut memperburuk keadaan. Pada babak pertama laga melawan City, kamera menangkap Alexander Isak, Cody Gakpo, dan Dominik Szoboszlai duduk di tribune Main Stand karena menjalani pemulihan cedera. Ketiganya merupakan penyumbang enam dari tujuh gol Liverpool di liga musim ini, sehingga absen mereka membuat lini depan kehilangan ketajaman.

Sebagai perbandingan, Manchester City sudah mengemas 16 gol di liga, lebih dari dua kali lipat jumlah gol Liverpool. Dari tiga laga kandang di Anfield musim ini, Liverpool gagal mencetak gol dalam dua di antaranya, sebuah catatan yang jelas harus segera diperbaiki. Tanpa Isak, Lewis Koumas memang bekerja keras, namun pemain berusia 21 tahun itu dinilai belum memiliki ketajaman yang dibutuhkan di level ini.

Beban Harga Mahal Wirtz dan Barcola

Sorotan kini beralih ke Florian Wirtz dan Bradley Barcola, dua pemain yang diharapkan mampu menjadi pembeda di laga sebesar melawan Manchester City. Keduanya dinilai belum menunjukkan kualitas yang sepadan dengan banderol harga di atas 100 juta poundsterling. Padahal, pertandingan seperti inilah yang menuntut adanya momen penentu dari pemain bintang.

Salah satu momen paling disesalkan terjadi pada menit ke-55 ketika skor masih 0-0. Saat itu Wirtz memiliki peluang besar karena Milos Kerkez dan Barcola berada dalam posisi bebas di sisi kirinya, namun ia memilih menembak sendiri dan bola melebar dari sasaran. Keputusan tersebut menjadi gambaran betapa Liverpool belum mampu memaksimalkan peluang terbaik mereka.

Meski kecewa dengan hasil akhir, Iraola mengaku tetap mendapatkan pelajaran berharga dari laga tersebut. Ia menyatakan rasa bangga terhadap para pemainnya karena telah mengerahkan seluruh kerja keras dan kemampuan yang dimiliki. Menurutnya, performa yang ditunjukkan tidak tercermin pada hasil, tetapi ia cukup menyukai cara timnya bermain.

Apa Artinya bagi Liverpool dan Iraola ke Depan

Terlepas dari kata-kata penyemangat tersebut, Iraola pasti menyadari bahwa pekerjaan besar masih menantinya. Prioritas utamanya adalah memastikan para pemain mahal mampu tampil sesuai ekspektasi sekaligus mengembalikan ketajaman lini serang yang kini terlihat tumpul. Selama dua persoalan itu belum terpecahkan, tekanan di setiap laga kandang akan terus terasa.

Problem Anfield juga bukan sekadar soal kualitas permainan, tetapi berkaitan dengan atmosfer dan mentalitas. Ketika tim tamu merasa nyaman bermain di sana, keuntungan terbesar sebuah stadion legendaris justru hilang. Karena itu, perbaikan harus mencakup sisi psikologis pemain maupun cara mereka menghadapi tekanan di hadapan pendukung sendiri.

Jika tren ini berlanjut, reputasi Anfield sebagai salah satu benteng paling menakutkan di Premier League bisa benar-benar terkikis. Sebaliknya, jika Liverpool mampu memutus rentetan tanpa kemenangan ini, kepercayaan diri tim bisa kembali tumbuh. Semua itu bergantung pada seberapa cepat Iraola menemukan solusi di tengah jadwal padat yang menuntut hasil instan.

Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian sekaligus peluang bagi Liverpool. Menang di Anfield tidak hanya soal tambahan tiga poin, tetapi juga soal memulihkan wibawa yang selama ini melekat pada nama stadion mereka. Selama faktor Anfield belum kembali, Liverpool akan terus kesulitan mengejar posisi yang mereka targetkan musim ini.

This entry was posted in mix parlay, parlay and tagged , , , , . Bookmark the permalink.