Premier League Desak Reformasi FIFA, Liga Top Eropa Bersatu

Empat liga paling berpengaruh di Eropa bersatu menyerukan reformasi FIFA. Premier League resmi merapat ke La Liga (Spanyol), Bundesliga (Jerman), dan Serie A (Italia) untuk mendesak perubahan mendasar pada cara federasi sepak bola dunia itu dijalankan, sekaligus menuding presidennya, Gianni Infantino, “secara aktif mempromosikan gagasan-gagasan yang eksploitatif”. Dalam pernyataan bersama yang dirilis ke publik, keempat liga menyatakan bahwa mereka angkat bicara “karena kami memahami betul bagaimana ekspansionisme FIFA yang tanpa henti berdampak pada semua orang”.

Seruan ini muncul hanya beberapa hari setelah Infantino mengusulkan tinjauan eksternal terhadap operasional FIFA. Usulan itu datang di tengah krisis akibat rencananya menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta, yang memicu kecaman global dan akhirnya dibatalkan. Bagi keempat liga, pembatalan tersebut tidak lantas menyelesaikan persoalan, karena kondisi yang memungkinkan lahirnya skema itu dianggap masih utuh. Isu ini penting bukan hanya bagi internal FIFA, tetapi juga bagi nasib kompetisi domestik di seluruh dunia serta peta pencalonan presiden FIFA pada Maret nanti.

Premier League
(FILES) Arsenal’s English midfielder #10 Eberechi Eze runs with the ball during the English Premier League football match between Arsenal and Newcastle United at the Emirates Stadium in London on April 25, 2026. Arsenal ended a 22-year wait to be crowned Premier League champions on May 19, 2026. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or ‘live’ services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Isi Seruan: Reformasi Tata Kelola FIFA yang Transparan

Dalam pernyataan bersama itu, keempat liga menegaskan bahwa perombakan tata kelola diperlukan agar FIFA menjadi “transparan, objektif, proporsional, dan inklusif”. Mereka juga menyampaikan sebuah prinsip dasar yang menjadi alasan utama langkah ini: olahraga ini tidak bisa tumbuh secara global jika fondasinya justru dirusak. Pernyataan tersebut menyebut situasi yang terjadi sebagai “salah satu penyalahgunaan kekuasaan terbesar dalam sejarah FIFA”.

Keempat liga mengakui bahwaskema FIFA Forward Enterprise (FFE) akhirnya ditarik setelah para pemangku kepentingan sepak bola menekan FIFA. Namun mereka menekankan bahwa penarikan itu hanya menyentuh permukaan masalah, sebab kondisi yang melahirkan FFE tidak berubah sama sekali. Karena itulah mereka menuntut perubahan yang bersifat mendasar, bukan sekadar penyesuaian prosedur di permukaan.

Meskipun Infantino disebut telah mengakui perlunya reformasi, keempat liga menilai pengakuan itu belum cukup. Menurut mereka, perubahan proses yang bersifat permukaan setelah insiden FFE tidak akan menyelesaikan akar persoalan, sehingga reformasi tata kelola yang fundamental menjadi syarat mutlak. Tujuannya adalah memulihkan batas-batas konstitusional yang jelas di dalam FIFA, termasuk jaminan bahwa perkara disipliner individu benar-benar terbebas dari intervensi politik.

Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa masalah tata kelola FIFA jauh melampaui peran satu orang saja. Pertanyaan yang lebih besar, menurut keempat liga, adalah apakah seorang presiden FIFA seharusnya memegang kekuasaan regulasi, komersial, dan politik sekaligus tanpa mekanisme kontrol yang efektif. Mereka menilai tata kelola yang memusatkan kekuasaan tanpa pengawasan pada satu jabatan, sementara pemangku kepentingan hanya ditempatkan sebagai penasihat, tidak layak untuk dipertahankan.

Tiga Tuntutan Konkret Liga-Liga Top Eropa

Seruan reformasi FIFA itu tidak berhenti pada kritik. Keempat liga merumuskan tuntutan yang cukup spesifik agar perubahan bisa diukur dan bukan sekadar janji politik. Tuntutan-tuntutan ini ditujukan langsung kepada FIFA sebagai panduan arah perbaikan tata kelola ke depan.

Pertama, mereka meminta dibentuknya badan permanen yang mewakili pemangku kepentingan utama, mencakup liga, klub, serta pemain dari sepak bola pria dan wanita. Badan ini harus memiliki peran yang berarti dalam proses pengambilan keputusan, bukan hanya forum formalitas tanpa pengaruh nyata.

Kedua, keempat liga menuntut pengambilan keputusan berbasis bukti. Setiap proposal besar wajib melewati penilaian independen yang mengukur dampaknya terhadap seluruh pemangku kepentingan sebelum disetujui. Dengan begitu, kebijakan strategis tidak bisa diambil hanya berdasarkan pertimbangan segelintir pihak.

Ketiga, mereka mendesak adanya pemisahan antara fungsi regulasi dan fungsi komersial FIFA. Pemisahan itu harus dijaga melalui pengamanan kelembagaan yang kokoh untuk mempertahankan kepercayaan, legitimasi, dan akuntabilitas, termasuk memastikan badan etik, pengawas keuangan, dan penyelenggara pemilihan benar-benar independen dari administrasi serta kepresidenan FIFA.

Latar Belakang: Skema FFE dan Kasus Balogun

Kritik terhadap Infantino menajam setelah ia menggagas penjualan sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta melalui skema FFE. Gagasan itu memicu reaksi keras dari berbagai kalangan dan akhirnya ditarik, tetapi jejak persoalannya tetap membekas. Keempat liga menjadikan peristiwa ini sebagai contoh utama mengapa reformasi struktural tidak bisa ditunda lagi.

Dalam pernyataannya, keempat liga juga menyinggung soal independensi perkara disipliner. Rujukan itu diketahui mengarah pada pembatalan hukuman skorsing penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun, di Piala Dunia. Pembatalan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelepon Infantino untuk meminta agar sanksi terhadap pemain itu ditinjau ulang.

Bagi keempat liga, rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa masalahnya bersifat sistemik, bukan sekadar kepribadian seorang pemimpin. Karena itu, mereka menilai reformasi tata kelola FIFA harus menyentuh struktur kekuasaan dan mekanisme kontrol, bukan hanya mengganti orang di kursi kepresidenan. FIFA sendiri belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.

Dampak bagi Infantino dan Pemilihan Presiden Maret

Tekanan ini menghadapkan Infantino pada situasi yang tidak mudah. Meski tiga konfederasi telah menyerukan agar ia mundur, ia tetap menyatakan akan mencalonkan diri kembali pada pemilihan Maret. Para penentangnya memiliki waktu hingga 18 November untuk memunculkan kandidat alternatif.

Keempat liga pun mengaitkan seruan reformasi FIFA ini dengan proses pemilihan tersebut. Mereka berharap para kandidat bersedia mendukung proposal perubahan yang mereka ajukan, apa pun hasil akhirnya nanti. Menurut mereka, momen ini bukan hanya soal memilih siapa yang akan memimpin FIFA, tetapi juga bagaimana FIFA seharusnya dipimpin.

Liga-liga menegaskan bahwa mereka punya peran krusial dalam proses ini dan ingin memastikan suara setiap liga didengar. Pernyataan itu secara tidak langsung menempatkan mereka sebagai kekuatan penekan yang harus diperhitungkan oleh setiap calon presiden FIFA. Dengan kata lain, dukungan terhadap agenda reformasi bisa menjadi syarat politik yang sulit dihindari kandidat mana pun.

Konteks Lebih Luas: Sengketa dengan Komisi Eropa

Ketegangan antara liga-liga top Eropa dan FIFA bukan hal baru. Dua tahun lalu, liga-liga teratas Eropa bersama serikat pemain Fifpro melayangkan pengaduan hukum terhadap FIFA ke Komisi Eropa. Mereka menuduh FIFA menyalahgunakan posisi dominannya dalam memperluas kalender pertandingan internasional, sekaligus menilai proses konsultasi dengan pihak terdampak sangat minim.

FIFA membantah tuduhan itu dan justru menuduh sejumlah liga bersikap munafik serta bertindak tanpa mempertimbangkan kepentingan pihak lain di seluruh dunia. Bantahan tersebut tidak meredam perselisihan, melainkan memperlebar jarak antara kedua kubu. Sengketa ini menjadi latar yang menjelaskan mengapa seruan reformasi kali ini terdengar begitu keras.

Keempat liga berpendapat bahwa langkah hukum mereka merupakan konsekuensi dari kerangka tata kelola yang cacat. Dalam kerangka itu, FIFA dinilai dapat memakai kewenangan regulasinya untuk memajukan kepentingan komersialnya sendiri, tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap keberlanjutan ekonomi dan sosial kompetisi nasional. Mereka menegaskan bahwa kondisi semacam ini harus segera berubah demi kepentingan sepak bola secara keseluruhan.

Siapa yang Menandatangani Seruan Ini

Pernyataan bersama tersebut ditandatangani oleh empat nama penting dalam industri sepak bola Eropa. Richard Masters mewakili Premier League sebagai chief executive, sementara Bundesliga diwakili CEO Marc Lenz. Dari Spanyol, Presiden La Liga Javier Tebas turut menandatangani, begitu pula CEO Serie A, Luigi De Siervo.

Keterlibatan empat liga besar ini menunjukkan bahwa kritik terhadap FIFA tidak lagi datang dari satu negara atau satu kepentingan tunggal. Sebelumnya, Masters bahkan pernah menyatakan kepada BBC Sport bahwa Infantino telah “menekan tombol penghancur diri” dan menimbulkan “luka akibat perbuatannya sendiri” dalam kasus FFE. Pernyataan itu kini menjadi bagian dari rangkaian tekanan yang terus menguat menjelang pemilihan presiden FIFA.

Dengan bersatunya empat liga terkuat Eropa, bobot politik seruan reformasi FIFA ini jelas lebih besar dibanding kritik yang disampaikan secara terpisah. Meski begitu, hasil akhirnya tetap bergantung pada seberapa besar dukungan yang berhasil mereka kumpulkan dari liga dan asosiasi lain di luar Eropa.

Yang paling menarik untuk dicermati adalah apakah agenda ini mampu mengubah arah pemilihan Maret nanti. Jika para kandidat menyerap tuntutan tersebut, reformasi tata kelola bisa menjadi tema utama kampanye. Sebaliknya, jika tuntutan itu diabaikan, perselisihan antara liga dan FIFA berpotensi berlanjut ke jalur hukum maupun kompetisi.

Pada akhirnya, seruan ini menggambarkan sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab: seberapa besar kekuasaan yang pantas dipegang satu jabatan dalam sepak bola dunia. Keempat liga sudah menyampaikan sikap mereka dengan jelas, lengkap dengan tiga tuntutan konkret dan alasan di baliknya. Kini bola berada di tangan FIFA dan para kandidat yang bersiap berlaga di pemilihan Maret.

This entry was posted in mix parlay, parlay and tagged , , , , . Bookmark the permalink.