Richarlison Tottenham: Striker £60 Juta Terdampar di U21

Richarlison kembali mencetak gol, tetapi bukan di panggung yang biasa ia huni. Striker Richarlison Tottenham itu tampil untuk tim U21 melawan Cheltenham Town di ajang EFL Trophy, sebuah laga yang hanya disaksikan beberapa ratus penonton, dan mencetak gol lewat tembakan setengah voli keras ke gawang klub League Two tersebut. Ia juga menyumbang satu gol dalam adu penalti, meski tim cadangan Spurs akhirnya kalah 7-6 setelah laga berakhir imbang 2-2. Pemandangan itu kontras tajam dengan statusnya sebagai pemain senilai £60 juta yang beberapa tahun lalu masih berbagi lapangan dengan Neymar Jr dan Vinicius Jr di timnas Brasil.

Richarlison Tottenham

Penampilan tersebut merupakan yang kedua bagi Richarlison musim ini, dan yang pertama sejak akhir Agustus saat ia menghadapi Brentford. Nama pemain berusia 29 tahun itu tidak masuk dalam skuad 25 pemain Tottenham untuk Premier League, sebuah keputusan yang menurut manajer Roberto de Zerbi bukan berasal darinya. Keputusan itu diambil setelah kepindahannya kembali ke Merseyside gagal terwujud di penghujung bursa transfer, sehingga memunculkan pertanyaan besar: mengapa pemain yang masih produktif justru harus mencari menit bermain di kompetisi antarklub lapis bawah Inggris?

Gol di EFL Trophy dan Menit Bermain yang Semakin Langka

Laga melawan Cheltenham Town menjadi salah satu dari sedikit kesempatan bagi Richarlison untuk merasakan pertandingan kompetitif. EFL Trophy, yang diikuti klub-klub League One dan League Two bersama tim akademi klub Premier League, memang sering menjadi ajang bagi pemain muda untuk mengasah kemampuan. Namun kehadiran seorang penyerang utama timnas Brasil di kompetisi itu jelas bukan hal yang biasa, terlebih karena ia tampak hampir enggan merayakan golnya.

Gol setengah voli yang ia cetak menunjukkan bahwa insting dan kualitas penyelesaian akhirnya belum hilang. Ia juga tetap tenang saat mengeksekusi penalti dalam adu tos-tosan yang berakhir dengan kekalahan timnya. Sayangnya, kemampuan seperti itu justru terbuang di hadapan tribun yang nyaris kosong, bukan di stadion berkapasitas puluhan ribu penonton yang biasa ia mainkan.

Situasi ini mempertegas betapa terbatasnya jalur menit bermain yang tersisa bagi Richarlison. Tanpa status terdaftar di skuad Premier League, ia praktis hanya bisa tampil di kompetisi seperti EFL Trophy sampai jendela transfer Januari dibuka kembali. Bagi pemain yang pernah menjadi andalan di level tertinggi, kondisi tersebut jelas menjadi kemunduran besar dalam kariernya.

Kronologi: Keputusan De Zerbi dan Dua Transfer yang Gagal

Untuk beberapa jam pada hari penutupan bursa transfer musim panas, kepindahan Richarlison dari Tottenham tampak hanya tinggal menunggu waktu. Ia disebut semakin dekat dengan kepulangan ke Everton, lebih dari empat tahun setelah meninggalkan Merseyside untuk hijrah ke London Utara. Namun setelah ia menyatakan keinginannya hengkang, rencana kepindahan ke Hill Dickinson Stadium itu batal, meninggalkan pemain dan klub tanpa banyak pilihan di saat-saat terakhir jendela transfer.

De Zerbi menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan berada di tangannya. “Dia memutuskan semuanya sendiri,” kata De Zerbi pada September. “Dia berbicara dengan saya di awal pramusim dan menyampaikan ide serta keinginannya untuk pergi. Pada akhirnya kami mendatangkan penyerang lain, dan seperti yang saya bilang di awal pramusim, saya ingin mempertahankan pemain yang memang ingin bertahan, yang bangga berada di sini, dan punya gairah yang tepat. Untuk persoalan lain, itu bukan urusan saya dan bukan pekerjaan saya. Itu tanggung jawab klub. Saya tidak bisa berkata apa-apa karena saya tidak memutuskan apa pun.”

Pada bulan yang sama, rencana kepindahan ke klub Brasil, Vasco da Gama, juga kandas setelah Richarlison gagal mencapai kesepakatan soal syarat personal. Ia pun turut absen dalam laga Carabao Cup melawan Liverpool bulan lalu, karena kompetisi tersebut hanya memperbolehkan pemain yang terdaftar di skuad liga masing-masing klub untuk tampil. Rangkaian kegagalan ini membuat posisinya terjepit: tak masuk rencana liga, tetapi juga tak berhasil pindah ke klub lain.

Dampak pada Lini Depan Tottenham yang Tumpul

Persoalan ini menjadi semakin pelik karena Tottenham sedang kesulitan mencetak gol. Hanya enam pertandingan berjalan di Premier League musim ini, Spurs baru mengoleksi tiga gol dan menjadi tim paling sedikit mencetak gol di kompetisi tersebut, sekaligus berada di posisi kedua dari bawah klasemen. Dalam konteks seperti itu, keputusan mengabaikan penyerang yang musim lalu menjadi top skor klub dengan 12 gol terasa semakin sulit dicerna.

Gol penyama kedudukan Dominic Solanke di menit akhir melawan Manchester United pada Sabtu lalu menjadi gol Premier League pertama dari seorang penyerang Tottenham sejak Richarlison mencetak gol ke gawang Chelsea pada Mei. Mantan striker Inggris, Alan Shearer, mempertanyakan kualitas Solanke dalam program Match of the Day dan menyebutnya “jauh dari cukup baik”. Pemain berusia 29 tahun itu baru mencetak 13 gol liga sejak bergabung dua tahun lalu dari Bournemouth dengan harga £55 juta.

Meski demikian, De Zerbi tetap puas dengan penampilan dan kontribusi Solanke setelah gol pertamanya musim ini menyelamatkan satu poin di Old Trafford, meski Spurs harus bermain dengan 10 pemain. Namun di balik pandangan positif sang manajer terhadap penyerang utamanya, masalah di sepertiga akhir lapangan sulit diabaikan, terlebih setelah klub menghabiskan £300 juta untuk mendatangkan pemain baru di musim panas. Ketika Tottenham gagal mencetak gol dalam empat laga pembuka Premier League musim ini, para pendukung di Tottenham Hotspur Stadium bahkan membentangkan spanduk yang meminta juara Europa League 2025 itu segera mencetak gol.

Mengapa Keputusan Itu Makin Sulit Dijustifikasi

Sejak didatangkan dari Everton, Richarlison tercatat telah mencetak 27 gol di kompetisi liga teratas Inggris dari 103 penampilan. Angka itu bukan catatan yang bisa diabaikan begitu saja, terutama bagi klub yang saat ini kesulitan menemukan ujung tombak yang tajam. Musim lalu ia menjadi top skor Tottenham di Premier League dengan torehan 11 gol dari 32 pertandingan, saat klub itu nyaris terdegradasi ke Championship.

Dengan kata lain, pemain yang kini harus bermain di depan tribun sepenggal itu tetap terbukti mampu mencetak gol di level tertinggi. Mengizinkannya mengembara di lapangan-lapangan klub kasta bawah Inggris sambil memamerkan ketajaman penyelesaian akhir di hadapan penonton yang sedikit jelas bukan pilihan yang menguntungkan secara kompetitif. Mengikutsertakannya dalam skuad Premier League nyaris pasti lebih bermanfaat dibanding membiarkannya menonton pertandingan dari luar daftar pemain.

Keputusan itu juga menjadi cerminan bagaimana dinamika transfer dan hubungan pemain dengan manajer bisa berbenturan dengan kebutuhan teknis sebuah tim. Richarlison memang menyatakan ingin pergi, tetapi ketika kepindahan itu gagal, klub tetap bertanggung jawab mencari solusi terbaik. Menyingkirkannya dari skuad justru membuat Tottenham kehilangan opsi yang sebenarnya mereka butuhkan di tengah paceklik gol.

Konteks Lebih Luas: Menanti Jendela Transfer Januari

Hingga Januari tiba, EFL Trophy menjadi salah satu dari sedikit pintu yang tersedia bagi Richarlison untuk mendapatkan menit bermain kompetitif. Fase grup kompetisi itu memang bisa memberinya pengalaman bertanding, tetapi jelas bukan level yang sepadan dengan kemampuan dan pengalamannya. Ia juga tertutup dari ajang seperti Carabao Cup karena tidak terdaftar di skuad liga klubnya.

Kondisi ini membuat jendela transfer musim dingin menjadi momen krusial bagi kedua pihak. Bagi Tottenham, langkah tersebut bisa menjadi jalan keluar agar beban gaji dan situasi tak nyaman ini terselesaikan; bagi Richarlison, itu kesempatan untuk kembali bermain secara reguler. Ke mana ia akan melangkah masih menjadi tanda tanya, mengingat kepulangan ke Everton maupun kepindahan ke Vasco da Gama sama-sama gagal terwujud pada musim panas lalu.

Kasus ini juga menegaskan bahwa jarak antara status pemain bintang dan pinggiran lapangan bisa sangat tipis. Kurang dari empat tahun setelah membela Brasil di Piala Dunia 2022, seorang penyerang senilai £60 juta kini harus mencari ritme permainan di turnamen yang jarang disorot kamera. Semua bergantung pada apakah ada klub yang bersedia membuka pintu pada Januari nanti.

Kesimpulan

Gol Richarlison untuk tim U21 Tottenham melawan Cheltenham Town adalah potret ironis dari situasi yang ia jalani: kualitasnya sebagai penyerang belum hilang, tetapi kesempatan untuk membuktikannya di level yang layak justru menipis. Di saat Tottenham hanya mencetak tiga gol dan terpuruk di papan bawah Premier League, keputusan mengeluarkannya dari skuad 25 pemain menjadi sorotan yang semakin sulit dibela. Dua transfer yang gagal, lengkap dengan pernyataan De Zerbi yang menyebut sang pemain “memutuskan semuanya sendiri”, membuat posisinya kini bergantung penuh pada jendela transfer Januari.

Yang tersisa bagi Richarlison adalah bertahan, menjaga kebugaran, dan tetap menunjukkan ketajamannya di panggung sekecil apa pun sambil menunggu peluang berikutnya. Bagi Tottenham, pertanyaannya sederhana: apakah klub dengan lini depan tumpul ini benar-benar mampu mengabaikan seorang penyerang yang sudah 27 kali mencetak gol di Premier League? Jawabannya mungkin baru terlihat saat jendela transfer musim dingin resmi dibuka.

This entry was posted in mix parlay, parlay and tagged , , , . Bookmark the permalink.