Legenda Timnas Nigeria, Segun Odegbami, menilai krisis sepak bola Nigeria saat ini sebagai periode terburuk sepanjang sejarah negara itu. Pria berusia 74 tahun yang pernah membawa Nigeria menjuarai Piala Afrika 1980 di kandang sendiri tersebut menyampaikan hal tersebut menjelang dimulainya kualifikasi Afcon 2027. Menurutnya, kemunduran yang terjadi bukan sekadar hasil buruk sesaat, melainkan pergeseran besar yang mengancam posisi Nigeria sebagai salah satu kekuatan tradisional sepak bola Afrika.
Penilaian itu berangkat dari rentetan kegagalan yang terjadi dalam 12 bulan terakhir. Tim putra Super Eagles dan tim putri Super Falcons sama-sama gagal lolos ke Piala Dunia FIFA di kategori masing-masing. Di luar itu, Nigeria juga mencatat hasil mengecewakan di level kelompok umur serta kompetisi klub Afrika, meski tim U-20 putri sempat menembus perempat final Piala Dunia Wanita U-20.

Odegbami Sebut Krisis Sepak Bola Nigeria di Titik Terburuk
Dalam wawancara dengan BBC Sport Africa, Odegbami tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menegaskan belum pernah Nigeria berada dalam kondisi seburuk sekarang, terutama karena gagal lolos ke Piala Dunia, sesuatu yang menurutnya belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Baginya, ini adalah pergeseran besar bagi salah satu kekuatan tradisional di benua Afrika.
Ia juga menyoroti kegagalan Super Falcons, yang sebelumnya dikenal sebagai juara Afrika, untuk memenangi Piala Afrika Wanita 2025. Menurut Odegbami, turnamen itu seolah sudah berada dalam genggaman mereka, tetapi tetap tidak berhasil diraih. Tidak hanya tim senior, tim-tim junior Nigeria pun dinilai tengah menurun performanya.
Persoalan lain yang diangkat adalah kondisi liga lokal. Odegbami menilai liga domestik Nigeria tidak lagi mendatangkan pemasukan yang memadai. Baginya, kombinasi semua masalah ini menandakan ada sesuatu yang fundamental salah dalam pengelolaan sepak bola negara tersebut.
Guncangan di Tubuh NFF
Krisis yang mencuat berdampak langsung pada struktur kepemimpinan sepak bola Nigeria. Presiden Federasi Sepak Bola Nigeria (NFF) Ibrahim Gusau, sekretaris jenderal Mohammed Sanusi, serta sejumlah anggota komite eksekutif federasi mengundurkan diri pada bulan lalu. Langkah itu diambil setelah gelombang kritik publik yang terus meningkat.
Odegbami menilai Nigeria selama ini tidak diurus oleh “sebelas pengurus terbaik” yang dibutuhkan. Ia menyerukan restrukturisasi menyeluruh agar tercipta kondisi untuk pembangunan jangka panjang. Menurutnya, desakan publik begitu besar hingga Presiden Bola Tinubu pun menyuarakan keinginan melakukan reformasi.
Semua faktor itu, kata Odegbami, kini seperti potongan puzzle yang menyatu dan membuka peluang untuk menyusun cetak biru yang mencakup seluruh aspek pembangunan sepak bola. Perubahan besar di NFF pun mulai berjalan sebagai bagian dari upaya tersebut.
Reformasi Harus Lebih dari Sekadar Pergantian Pemimpin
Delegasi gabungan dari FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dilaporkan turut terlibat dalam pembahasan dengan Komisi Olahraga Nasional (NSC) mengenai masa depan struktur sepak bola Nigeria. Para pihak tengah menyusun peta jalan menuju reformasi menyeluruh, sementara pemilihan pengurus NFF yang dijadwalkan 27 September ditangguhkan. Presiden Tinubu menegaskan keinginannya melakukan reformasi untuk mengatasi apa yang ia sebut sebagai kegagalan berulang.
Sebagai langkah sementara, Emmanuel Ikpeme ditunjuk sebagai sekretaris jenderal interim NFF, dengan Ademola Olajire sebagai wakil sekretaris jenderal interim. Perombakan ini memantik perdebatan baru di kalangan pemangku kepentingan soal apakah Nigeria membutuhkan restrukturisasi yang lebih mendalam daripada sekadar pergantian orang.
Jurnalis olahraga Nigeria, Fisayo Dairo, menegaskan bahwa reformasi tidak boleh berhenti pada pergantian pemimpin. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah kerangka dan struktur yang tepat agar sepak bola Nigeria bisa tumbuh dan berkembang. Tanpa fondasi itu, perubahan pengurus hanya akan menjadi siklus yang berulang.
Dairo menambahkan, pembangunan harus menyentuh pengembangan tim nasional, penjaringan bakat dari akar rumput, serta tata kelola yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Dunia korporasi, katanya, perlu dilibatkan penuh agar administrasi mampu menghasilkan dana. Dengan begitu, federasi tidak hanya bergantung pada sumber pemasukan yang terbatas.
Kejayaan Masa Lalu yang Kini Memudar
Bagi Odegbami, situasi sekarang sangat kontras dengan era ketika ia ikut mengubah wajah sepak bola Nigeria. Dijuluki “Mathematical” karena ketepatan dan keterampilannya mengolah bola, ia menjadi bagian dari skuad yang membawa Nigeria meraih gelar kontinental pertama pada 1980 dengan mengalahkan Aljazair 3-0 di final di Lagos. Dukungan yang luar biasa pada masa itu, katanya, membuat segala sesuatunya berjalan selaras.
Ia mengenang suasana selama periode tersebut sebagai sesuatu yang tak terlukiskan dan tak bisa dibandingkan dengan apa pun. Pengalaman itu, ujarnya, tetap membekas kuat dalam ingatan para pemain hingga kini. Kenangan itulah yang membuatnya semakin prihatin melihat kondisi sepak bola Nigeria saat ini.
Sejak 1980, Nigeria kembali mengangkat trofi Piala Afrika pada 1994 dan 2013, serta menjadi runner-up pada edisi 2023. Tim ini juga finis ketiga pada 2019 dan pada edisi di Maroko. Namun, Odegbami menilai olahraga bukan menjadi prioritas pemerintahan silih berganti, dan ia menilai pengurus sepak bola gagal mengarahkan sejak pertengahan 1990-an.
Ia menyebut para “pilot” tidak membimbing dengan baik, dan hal itu berdampak pada seluruh aspek pembangunan sepak bola, mulai dari akar rumput, penemuan pemain, pembinaan, pembentukan lembaga penunjang, akademi, hingga klub lokal maupun internasional. Pertanyaannya, katanya, apa metodologi kepelatihan dan filosofi sepak bola Nigeria, apa budayanya, dan apa gayanya.
Infrastruktur Terbengkalai, Nigeria Tertinggal dari Afrika
Selain kegagalan lolos ke dua Piala Dunia terakhir, persoalan infrastruktur yang rusak dan investasi yang minim menjadi tema berulang dalam diskusi tentang kondisi sepak bola Nigeria. Sementara itu, sejumlah negara Afrika lain terus berinvestasi untuk menjadi tuan rumah ajang-ajang besar. Ketertinggalan ini memperlihatkan adanya masalah yang lebih struktural, bukan sekadar persoalan di lapangan.
Senegal akan menjadi tuan rumah Youth Olympic Games bulan depan, sementara Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Namibia menyelenggarakan Piala Dunia Kriket putra tahun depan. Kenya akan menggelar Kejuaraan Dunia Atletik 2029, dan Maroko akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal. Deretan tuan rumah itu menjadi pembanding yang mencolok bagi Nigeria.
Odegbami menyayangkan stadion-stadion kelas atas yang dulu dimiliki Nigeria kini terbengkalai karena diabaikan. Ia menyebut Stadion Nasional di Surulere, Lagos, yang pernah menjadi venue Piala Afrika 1980 dan 2000, Stadion Liberty (kini Stadion Obafemi Awolowo) di Ibadan, Stadion Ahmadu Bello di Kaduna, serta Stadion UJ Esuene di Calabar. Semua fasilitas itu, menurutnya, kini jauh dari kondisi ideal.
Ia mengaku menangis ketika mengingat besarnya kerusakan yang ditimbulkan terhadap sepak bola Nigeria, termasuk pada monumen bersejarah yang dulu menjadi fasilitas sepak bola. Menurutnya, apakah karena kesengajaan atau ketidaktahuan, kerusakan yang ditimbulkan terhadap warisan Nigeria nyaris tak bisa diperbaiki. Uyo, katanya, adalah yang terbaik yang dimiliki Nigeria sekarang, tetapi tidak separuh sebagus fasilitas yang dimiliki pada era 1960-an hingga 1990-an.
Ujian Selanjutnya di Kualifikasi Afcon 2027
Di tengah semua persoalan itu, Super Eagles harus segera kembali bertanding. Nigeria akan memulai kualifikasi Afcon 2027 melawan Madagaskar di Stadion Godswill Akpabio, Uyo, Jumat pukul 16.00 GMT, sebelum bertandang ke Guinea-Bissau pada 29 September. Dua laga ini menjadi kesempatan awal bagi Nigeria untuk menunjukkan bahwa perbaikan benar-benar tengah berjalan.
Namun, skuad asuhan Eric Chelle dipastikan kehilangan mantan Pemain Terbaik Afrika, Victor Osimhen, yang absen karena cedera. Absennya Osimhen menjadi pukulan tambahan bagi Nigeria yang tengah berjuang mengembalikan performa di level tim nasional. Ketiadaan penyerang utama itu membuat lini serang Nigeria harus mencari solusi lain di dua laga pembuka kualifikasi tersebut.
Krisis sepak bola Nigeria yang diungkapkan Odegbami bukan sekadar soal hasil di lapangan, melainkan mencakup kegagalan tata kelola, infrastruktur yang rusak, dan ketertinggalan dari negara-negara Afrika lain. Desakan reformasi yang melibatkan FIFA, CAF, dan pemerintah menjadi titik balik yang menentukan apakah Nigeria mampu bangkit atau justru semakin jauh tertinggal.
Pada akhirnya, keberhasilan reformasi akan diuji lewat hasil nyata: penampilan tim nasional, kualitas liga domestik, dan kembalinya Nigeria sebagai kekuatan yang disegani di sepak bola Afrika. Tanpa perbaikan yang menyeluruh, penilaian Odegbami bahwa ini adalah masa terburuk dalam sejarah Nigeria bisa terus terbukti di lapangan.