Ketika Haaland Bicara, Inggris Bergidik
Erling Haaland kembali menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026. Striker berambut pirang yang selalu mudah dikenali di lapangan itu sukses membawa Norwegia menembus perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dengan dua golnya ke gawang Brasil, Haaland tak cuma mengukir kemenangan bersejarah, tapi juga menegaskan statusnya sebagai ancaman paling serius bagi Inggris di babak selanjutnya.
Timnas Inggris yang baru saja melewati laga sengit melawan Meksiko (3-2) harus bersiap menghadapi Norwegia yang kini dipenuhi kepercayaan diri. Di balik euforia itu, ada satu nama yang membuat lini belakang Three Lions pasti was-was: Erling Haaland. Tanpa banyak sentuhan, ia mampu menghukum lawan hanya dalam sekejap.
Hanya Butuh Sedikit Peluang, Haandal Selalu Membunuh
Dalam laga babak 16 besar melawan Brasil, Haaland hanya mencatatkan empat sentuhan di kotak penalti lawan. Namun dari satu sentuhan itu, ia membuka skor pada menit ke-79. Sebelas menit kemudian, tembakan rendah dari luar kotak penalti menggandakan keunggulan Norwegia menjadi 2-1. Dua gol itu membuatnya sejajar dengan Kylian Mbappe dan Lionel Messi di puncak daftar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 – masing-masing dengan tujuh gol.
Mantan pemain sayap Skotlandia, Pat Nevin, kagum saat berkomentar di BBC Radio 5 Live: “Kalian tidak akan melihat pemain lain melakukan itu. Tidak ada peluang. Setengah peluang pun tidak. Nol.” Mantan striker Inggris, Ian Wright, menambahkan di ITV: “Orang terus bicara soal jumlah sentuhannya. Dia tidak perlu banyak sentuhan.”

Gol-gol Haaland memang selalu datang di momen krusial. Sejak Oktober 2024, ia belum pernah melewatkan satu pun laga kompetitif bersama Norwegia tanpa mencetak gol. Catatan tersebut menunjukkan betapa konsistennya ia menjadi ujung tombak yang mematikan.
Rekor Menakutkan di Level Internasional
Haaland kini telah mengoleksi 62 gol dalam 54 penampilan senior bersama Norwegia – rata-rata satu gol setiap 71 menit. Lebih mengesankan lagi, hanya enam dari gol-gol itu berasal dari penalti. Striker Manchester City itu juga telah mencetak gol dalam 14 laga kompetitif beruntun untuk negaranya, dengan total 27 gol dalam rentang tersebut.
Gary Neville, mantan bek Inggris, menilai Haaland telah menghapus keraguan tentang kemampuannya di panggung dunia. “Dia adalah karakter besar, kepribadian besar. Kadang orang bilang ‘dia belum pernah melakukannya di panggung dunia’, dan sekarang itu sudah terhapus,” ujarnya di ITV.
Prestasi Norwegia sendiri sungguh luar biasa. Terakhir kali mereka tampil di Piala Dunia adalah tahun 1998, dan sebelumnya hanya dua kali mencapai babak 16 besar (1938 dan 1998). Kini mereka sudah memenangkan dua laga knockout berturut-turut – termasuk mengalahkan juara dunia lima kali Brasil. Pelatih Stale Solbakken berkata, “Saya bilang ke pemain, ini mungkin tidak 50-50, tapi kami punya peluang jika bermain terbaik dan memiliki pencetak gol penentu. Dan kami memilikinya.”
Duel Panas Haaland vs Gabriel
Banyak perhatian tertuju pada pertarungan antara Haaland dan bek Arsenal, Gabriel Magalhães, sebelum laga. Rivalitas yang sudah akrab di Premier League ini kembali memanas. Gabriel tampak unggul di babak pertama dengan membatasi Haaland hanya satu sentuhan di kotak penalti. Tapi begitu pertandingan terbuka, ruang bagi Haaland ikut terbuka – dan Brasil harus membayar mahal.
Gol pertama Haaland adalah sundulan yang memenangi duel udara dengan Gabriel. Gol kedua? Gabriel hanya menjadi penonton saat Haaland melepaskan tembakan rendah. Sepanjang laga, Haaland hanya memiliki 30 sentuhan – sama dengan pemain pengganti yang ditarik di babak pertama – dan melepaskan 13 operan. XG-nya hanya 0,39. Tapi semua itu tidak penting. Yang penting adalah dua gol dan kemenangan.
Mantan bek Arsenal, Matt Upson, berkomentar: “Apakah dia pernah punya banyak sentuhan? Tidak. Begitulah caranya bermain: momen-momen. Momen kunci saat dia tampil.” Stephen Warnock, mantan bek Liverpool, menambahkan: “Rata-rata dia hanya butuh 14 sentuhan per gol. Itu menjelaskan segalanya. Tapi yang dia lakukan adalah lari tanpa pamrih ke belakang, mengunci bek, dan memberi ruang bagi gelandang naik.”
Keyakinan Sebuah Bangsa
Ribuan pendukung Norwegia memadati luar stadion jauh sebelum kick-off. Banyak yang mengenakan helm Viking, mengibarkan bendera merah raksasa, dan menyanyikan lagu-lagu yang akrab terdengar sepanjang turnamen. Ada kegembiraan, tapi juga keyakinan – kepercayaan tenang bahwa tim ini bisa bersaing dengan siapa pun.
“Ini hari yang gila. Salah satu hari paling gila dalam sejarah Norwegia,” kata Haaland usai laga. Pelatih Solbakken menggambarkan euforia yang menyatukan seluruh negeri: “Seluruh negara sedang mendayung bersama. Maksud saya, kami berpesta besar di sini, di Oslo, dan di semua kota besar dan kecil di Norwegia. Adu dayung itu simbol bahwa kami semua bersatu.”
Tradisi “Viking Row” yang ikonik itu pun ikut merasuki dunia. Wayne Rooney bahkan terpaksa menjalani janjinya untuk mendayung di Sungai Mersey jika Norwegia lolos ke perempat final. Kini, Inggris harus bersiap menghadapi Norwegia yang tidak hanya punya sejarah, tapi juga monster bernama Erling Haaland.
Kesimpulan: Inggris Harus Waspada
Norwegia kini hanya berjarak tiga kemenangan dari gelar juara dunia yang nyaris mustahil. Dengan Haaland di barisan depan, segalanya mungkin terjadi. Wayne Rooney mengakui: “Dia memberi seluruh negara keyakinan bahwa mereka bisa melangkah sangat jauh di kompetisi ini.” Bagi Inggris, tidak ada pilihan selain menemukan cara menghentikan pria yang bahkan tanpa banyak sentuhan bisa menghancurkan pertahanan terbaik sekalipun. Jika gagal, Haaland akan kembali menjadi mimpi buruk yang paling ditakuti.