Mimpi Buruk Lain bagi Sepak Bola Jerman
Kekalahan dramatis dari Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjadi pukulan telak bagi Timnas Jerman. Kekalahan ini tidak hanya mengakhiri perjalanan mereka di turnamen, tetapi juga meningkatkan tekanan Julian Nagelsmann sebagai pelatih kepala. Publik dan media Jerman langsung bereaksi keras, menyebutnya sebagai “mimpi buruk baru” sepak bola Jerman setelah sukses di masa lalu.
Dulu, Jerman selalu dianggap sebagai calon juara di setiap turnamen besar. Dengan rekor empat gelar Piala Dunia (saat masih bernama Jerman Barat) dan tiga gelar Piala Eropa, mereka adalah kekuatan yang disegani. Namun, era kejayaan itu perlahan memudar. Sejak menjuarai Piala Dunia 2014, Jerman gagal lolos dari fase grup sebanyak dua kali, dan kini tersingkir di babak knockout pertama pada edisi 2026.
Kronologi Kekalahan yang Memperberat Posisi Nagelsmann
Paraguay, yang berada di peringkat 41 FIFA, sukses mengalahkan Jerman (peringkat 10) melalui adu penalti 4-3 setelah skor 1-1 bertahan hingga perpanjangan waktu. Meskipun menguasai 75% penguasaan bola, Jerman kesulitan menembus pertahanan rapi Paraguay. Gol penalti yang gagal dari Kai Havertz dan Nick Woltemade, ditambah sepakan Jonathan Tah yang melambung, membuat Paraguay memastikan kemenangan bersejarah.

Kekalahan ini menjadi yang pertama bagi Jerman dalam adu penalti Piala Dunia. Sebelumnya, mereka memiliki rekor sempurna 4 kemenangan dalam 4 kesempatan adu penalti.
Reaksi Nagelsmann: ‘Saya Bukan Orang yang Lari’
Dalam konferensi pers usai laga, Julian Nagelsmann mengakui betapa pahitnya hasil ini. “Saat Anda tersingkir dari Piala Dunia setelah melawan Paraguay, itu sangat menyakitkan. Ini adalah eliminasi ketiga berturut-turut; kami bukan lagi tim kelas satu,” ujarnya. Namun, Nagelsmann tetap bersikeras ingin melanjutkan pekerjaannya. “Jika DFB (Asosiasi Sepak Bola Jerman) menginginkan saya lanjut, saya akan lanjut. Saya bukan orang yang lari,” tegasnya.
Pernyataan ini tidak meredakan tekanan Julian Nagelsmann. Banyak pendukung dan pengamat menilai kegagalan di turnamen besar ketiga—setelah hanya mencapai perempatfinal Euro 2024—sudah cukup sebagai alasan pergantian pelatih. Nama Jurgen Klopp pun mulai muncul sebagai kandidat pengganti.
Kritik Tajam dari Mantan Pemain dan Pengamat
Mantan bek Jerman, Arne Friedrich, dengan tegas mengatakan Nagelsmann harus menerima konsekuensinya. “Jika Anda melihat keseluruhan turnamen dan cara kami bermain, kekalahan ini pantas. Perjalanan harus terus berlanjut tanpa Nagelsmann,” ujarnya di BBC Radio 5 Live. Senada dengan itu, eks gelandang Thomas Hitzlsperger menyebut performa Jerman tidak bisa diterima. “Dengan format Piala Dunia yang diperluas, tersingkir begitu awal sangat berat diterima negara besar mana pun,” katanya.
Bahkan sebelum pertandingan melawan Paraguay, kritik sudah berdatangan. Jurgen Klopp, yang saat itu bekerja sebagai komentator televisi, menyoroti kekalahan dari Ekuador di fase grup dan menyebut metode yang dipilih Nagelsmann salah dalam menghadapi lawan agresif.
Akar Masalah: Hilangnya Aura dan Ketangguhan Fisik
Hitzlsperger memberikan analisis mendalam tentang kemunduran Jerman. Menurutnya, pengembangan pemain di Jerman terlalu fokus pada penguasaan bola, gaya bermain, dan inovasi taktik, tetapi melupakan “ketajaman” (edge) dalam bertanding. “Kami kehilangan aura yang membuat lawan takut. Mereka masih respek, tapi tidak lagi gentar. Kami tidak lagi sulit dikalahkan dan kurang kehadiran fisik seperti dulu,” jelasnya.
Ia juga membandingkan dengan Argentina sebagai contoh ideal—tim yang memiliki kombinasi kemampuan ‘kasar’ saat diperlukan dan kreativitas pemain bintang. “Kami tidak punya Messi, tapi kami seharusnya lebih dekat dengan level tim seperti Argentina atau Prancis. Ini harus diperbaiki dari tingkat akademi,” tambahnya.
Kesimpulan: Apakah Ini Akhir bagi Nagelsmann?
Kekalahan dari Paraguay di Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil buruk; ini adalah puncak dari serangkaian kegagalan yang menempatkan tekanan Julian Nagelsmann pada titik tertinggi. Jurnalis sepak bola Jerman, Raphael Honigstein, menilai tidak mungkin Nagelsmann selamat dari situasi ini. “Anda bisa tersingkir, tetapi tidak boleh tersingkir seperti ini melawan Paraguay. Ini akan menjadi kekalahan dengan konsekuensi besar. Saya khawatir, ini akan menjadi akhir baginya,” tutupnya.
Bagi Nagelsmann, masa depannya kini tergantung keputusan DFB. Namun, dengan kritik yang datang dari berbagai pihak, termasuk legenda tim sendiri, peluangnya untuk bertahan semakin tipis. Sementara itu, Jerman harus merenungkan kembali identitas sepak bola mereka agar bisa kembali bersaing di panggung dunia.