Biaya tahunan yang harus ditanggung klub-klub Inggris untuk Independent Football Regulator (IFR) melonjak menjadi £20,3 juta, atau sekitar dua kali lipat dari estimasi awal yang pernah dipublikasikan. Angka itu muncul dalam usulan skema pungutan (levy) yang akan dibebankan kepada klub mulai musim depan. Dengan begitu, beban pengawasan sepak bola Inggris tidak lagi hanya soal regulasi, tetapi juga soal tagihan yang harus dibayar setiap tahun oleh kompetisi profesional.

IFR adalah badan pengawas independen yang dibentuk untuk mengawasi tata kelola dan kesehatan keuangan klub. Sejak beroperasi, lembaga ini menjalankan fungsi pengawasan yang sebelumnya tidak dimiliki sepak bola Inggris, mulai dari uji kelayakan pemilik hingga mediasi sengketa distribusi uang antara liga. Karena itu, besaran biaya operasionalnya menjadi penting: angka itu menentukan seberapa besar harga yang harus dibayar klub demi sebuah ekosistem yang lebih stabil, sekaligus menjadi bahan perdebatan politik karena menyangkut uang publik dan uang klub.
Rincian £20,3 Juta dan Komponen Biaya IFR
Dari total £20,3 juta yang diusulkan, sebanyak £18,3 juta dialokasikan untuk menutup biaya operasional, termasuk membiayai sekitar 100 staf. Sisanya, £1 juta, disiapkan sebagai cadangan untuk menghadapi potensi litigasi yang mungkin muncul di kemudian hari. Satu juta pound lagi masuk ke dalam perhitungan biaya pendirian (set-up cost) yang totalnya diperkirakan mencapai £45 juta dan akan dilunasi selama 10 tahun ke depan.
Struktur biaya tersebut menunjukkan bahwa IFR tidak hanya menghitung kebutuhan harian, tetapi juga risiko hukum dan warisan biaya pembentukan lembaga. Cadangan litigasi menjadi wajar mengingat regulator berpotensi bersinggungan dengan keputusan klub, pemilik, maupun liga yang tidak puas. Sementara itu, pembayaran biaya pendirian secara bertahap selama satu dekade memperlihatkan bahwa beban awal lembaga ini sengaja tidak dibebankan sekaligus dalam satu musim.
Mulai musim berikutnya, seluruh klub yang diatur di lima divisi teratas sepak bola pria Inggris wajib menanggung operasional IFR melalui mekanisme levy tersebut. Artinya, kewajiban ini tidak hanya menyentuh klub-klub Liga Primer, tetapi juga tim di Championship, League One, League Two, dan National League dengan porsi yang berbeda-beda.
Mengapa Angkanya Jauh di Atas Perkiraan Awal
Angka £20,3 juta jauh melampaui proyeksi dalam laporan kajian dampak (impact assessment) tahun 2019, yang dibuat sebelum rancangan undang-undangnya final. Saat itu, biaya operasional tahunan diperkirakan berada di kisaran £8 juta hingga £10,2 juta untuk sepuluh tahun pertama. Selisih dua kali lipat inilah yang menjadi dasar kritik bahwa regulator baru ini tumbuh lebih mahal daripada yang dijanjikan kepada klub dan parlemen.
Direktur eksekutif IFR, Richard Monks, secara terbuka mengakui bahwa pihaknya mengetahui angka £10 juta yang beredar, tetapi menegaskan angka itu tidak mencerminkan kondisi keuangan saat ini maupun beban tugas yang dihadapi lembaganya. Ia menyebut levy yang diusulkan merupakan pendekatan yang adil dan seimbang, dengan mayoritas klub hanya membayar sekitar 0,1% dari pendapatan tahunan mereka. Menurutnya, investasi itu relatif moderat untuk mencapai ekosistem sepak bola yang lebih berkelanjutan dan memberi ketenangan bagi suporter, klub, serta komunitas di sekitarnya.
Perbedaan antara perkiraan 2019 dan realitas 2025 juga bisa dibaca sebagai konsekuensi dari meluasnya cakupan tugas regulator. Ketika lembaga ini benar-benar berdiri, kebutuhannya mencakup personel, sistem pengawasan, penanganan sengketa, dan uji kelayakan pemilik klub yang tidak seluruhnya terbayang saat kajian dampak disusun. Namun bagi pihak yang skeptis, penjelasan tersebut tetap tidak menghapus kesan bahwa biaya negara terhadap sepak bola Inggris membengkak.
Siapa Membayar Berapa: Skema Progresif IFR
IFR menyatakan skema levy dirancang agar kontribusi terbesar datang dari pihak yang paling mampu membayar. Klub yang berkompetisi di ajang Uefa dan Fifa, serta klub yang masih menerima pembayaran parasut (parachute payments) dari Liga Primer, dikenai porsi lebih tinggi dibandingkan klub lain. Pendekatan ini menempatkan beban terbesar pada klub dengan pendapatan dan sumber dana paling besar.
Dalam estimasi regulator, klub Liga Primer dengan pendapatan tertinggi akan dikenai hingga £1,8 juta per musim, sedangkan sebagian besar klub di kasta teratas membayar sekitar £600.000. Klub Championship yang tidak menerima pembayaran parasut diperkirakan membayar sekitar £45.000 per musim, klub League One sekitar £9.000, dan klub League Two sekitar £6.000. Adapun klub National League membayar kurang dari £600 per musim.
- Klub Liga Primer berpendapatan tertinggi: hingga £1,8 juta per musim.
- Mayoritas klub Liga Primer: sekitar £600.000 per musim.
- Championship tanpa pembayaran parasut: sekitar £45.000 per musim.
- League One: sekitar £9.000 per musim.
- League Two: sekitar £6.000 per musim.
- National League: kurang dari £600 per musim.
Rentang angka yang lebar itu memperlihatkan bahwa levy dirancang menyerupai pajak progresif, bukan pungutan seragam. Bagi klub kecil, nominal ratusan atau ribuan pound memang terasa jauh lebih ringan dibandingkan klub besar yang harus menyiapkan dana jutaan pound. Meski begitu, perbandingan beban terhadap pendapatan tetap menjadi ukuran yang paling relevan, sebagaimana ditekankan IFR dengan klaim angka 0,1% dari pendapatan tahunan tadi.
Polemik: Kritik Politik dan Perbandingan yang Dipertanyakan
Menteri olahraga bayangan dari Partai Konservatif, Louie French, menyampaikan kritik tajam melalui media sosial. Ia menyoroti bahwa pemerintah memperkirakan biaya regulator baru ini berada di rentang £77 juta hingga £106 juta selama 10 tahun, dengan biaya pendirian sekitar £45 juta dan biaya operasional tahun pertama lebih dari £18 juta. Menurutnya, IFR jelas bukan regulator “light touch” yang pernah dijanjikan kepada klub dan parlemen.
IFR sendiri membela diri dengan membandingkan levy usulannya terhadap beban regulator lain di Inggris maupun biaya administrasi badan sepak bola yang sudah ada. Regulator menyebut angka £20,3 juta masih jauh lebih rendah dibandingkan beban regulator lain di Inggris dan laporan biaya administrasi Liga Primer yang melebihi £200 juta pada 2024/25, serta EFL yang sekitar £35 juta. Perbandingan itu, menurut laporan, justru mengundang keheranan sejumlah pihak di Liga Primer mengingat besarnya pendapatan yang dihasilkan kompetisi tersebut.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa persoalan levy bukan sekadar hitungan matematis, melainkan juga soal narasi tentang seberapa besar negara boleh membebani industri yang selama ini mengurus dirinya sendiri. Klub besar menilai perbandingan biaya administrasi liga dengan biaya regulator tidak sepenuhnya sebanding. Di sisi lain, regulator berpendapat bahwa biaya pengawasan harus dilihat sebagai investasi untuk mencegah kegagalan klub yang jauh lebih mahal dampaknya.
Konteks Lebih Luas: Keuangan Klub dan Masa Depan Pengawasan
Perdebatan soal biaya ini muncul di tengah kondisi keuangan sepak bola Inggris yang rapuh. Dalam laporan State of the Game yang dirilis pekan sebelumnya, IFR mengungkap bahwa 94% klub mengalami kerugian, sementara lebih dari 60% klub di EFL dan National League secara teknis insolven. Temuan itu menjelaskan mengapa regulator menempatkan keberlanjutan finansial sebagai prioritas, sekaligus mengapa biaya pengawasan dianggap perlu meski tidak murah.
Sejak dibentuk tahun lalu, IFR mengklaim telah melakukan uji kelayakan terhadap 40 pemilik, direktur, dan eksekutif senior. Lembaga ini juga terlibat dalam negosiasi antara Liga Primer dan EFL mengenai kesepakatan finansial baru, sebuah proses yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan antarliga. Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa peran regulator tidak berhenti pada pengawasan administrasi, tetapi merambah ke jantung pembagian uang di sepak bola Inggris.
Isu lain yang ikut mewarnai adalah independensi lembaga ini. Dalam pemberitaan sebelumnya, regulator disebut bersedia mundur bila ada intervensi dari pihak seperti Manchester City, dan juga memperingatkan bahwa mayoritas klub berada di ambang “bencana finansial”. Dua sinyal itu menegaskan bahwa IFR memposisikan diri sebagai penjaga stabilitas, bukan sekadar badan administratif yang mengumpulkan iuran tahunan.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana skema levy final dirumuskan dan seberapa besar penyesuaian yang terjadi setelah masukan dari klub dan parlemen. Jika angka £20,3 juta dipertahankan, klub-klub Inggris harus mulai memasukkan pos biaya baru ini ke dalam perencanaan anggaran musim depan. Sebaliknya, bila tekanan politik menguat, regulator mungkin perlu menjelaskan secara lebih rinci dasar perhitungan biayanya agar tidak dianggap sebagai lembaga yang lebih mahal dari yang dijanjikan.
Kesimpulan
Kenaikan biaya Independent Football Regulator menjadi £20,3 juta per tahun menandai babak baru dalam tata kelola sepak bola Inggris. Angka itu dua kali lipat dari proyeksi 2019, terdiri dari £18,3 juta biaya operasional untuk sekitar 100 staf, £1 juta cadangan litigasi, serta £1 juta untuk melunasi biaya pendirian £45 juta selama satu dekade. Skema pembebanannya dibuat berjenjang, dari £1,8 juta untuk klub Liga Primer berpendapatan tertinggi hingga kurang dari £600 untuk klub National League.
Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan tentang keseimbangan: seberapa besar harga yang pantas dibayar klub demi pengawasan yang lebih ketat, dan seberapa jauh janji “regulator ringan” masih bisa dipertanggungjawabkan. Dengan mayoritas klub merugi dan lebih dari separuh klub EFL serta National League secara teknis insolven, biaya pengawasan akan selalu dinilai bukan dari nominalnya semata, melainkan dari apakah kehadiran regulator benar-benar membuat sepak bola Inggris lebih sehat.