Perjalanan AS di Piala Dunia 2026: Kemenangan di Tengah Kontroversi
Timnas Amerika Serikat sukses melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Bosnia-Herzegovina di San Francisco Bay Area Stadium. Kemenangan ini memang pantas diraih, namun meninggalkan tanda tanya besar: apakah kartu merah Balogun akan menjadi bumerang bagi perjuangan AS selanjutnya?
Pelatih Mauricio Pochettino sejak awal menanamkan semangat “Why not us?” pada skuadnya. Pertanyaan yang ia lontarkan sejak Maret lalu itu kini menjadi nyanyian perang tim. Sayangnya, setelah 21 hari turnamen dan empat laga dijalani, jawaban masih belum jelas.
Insiden Kartu Merah Balogun yang Kontroversial
Pada laga melawan Bosnia, Folarin Balogun menjadi pahlawan sekaligus martir. Mantan pemain muda Arsenal itu membuka keunggulan AS jelang turun minum, menambah koleksi golnya menjadi tiga di turnamen ini. Namun, petaka datang di menit ke-62.
Dalam perebutan bola lambung di sisi kiri, Balogun dan bek Bosnia Tarik Muharemovic saling beradu. Saat Balogun mencoba melindungi bola, kakinya mendarat di pergelangan kaki lawan secara tidak sengaja, menyebabkan cedera mengerikan. Wasit Brasil Raphael Claus, setelah meninjau tayangan ulang super lambat, tak punya pilihan selain mengeluarkan kartu merah Balogun.
Rekor Suram di Balik Kartu Merah
Kartu merah ini menempatkan Balogun dalam catatan sejarah yang kurang mengenakkan. Ia menjadi pemain AS ketiga yang mencetak tiga gol dalam satu edisi Piala Dunia, namun juga menjadi pemain keempat yang mencetak gol dan diusir dalam laga gugur. Sebelumnya, Garrincha (Brasil 1962), Ronaldinho (Brasil 2002), dan Zinedine Zidane (Prancis 2006) mengalami nasib serupa.
Hukuman awal berupa skors satu pertandingan otomatis, membuat Balogun absen melawan Belgia. Namun FIFA bisa memperpanjang hukuman hingga dua laga berikutnya (perempat final dan semifinal) jika AS lolos.
Dampak Absennya Balogun bagi Skuad AS
Tanpa Balogun, lini depan AS kehilangan senjata utama. Calon pengganti, Ricardo Pepi (PSV), belum mencetak gol dalam 184 menit bermain di turnamen ini, bahkan mandul sejak November 2024. Pelatih Pochettino harus memutar otak untuk mengisi kekosongan tersebut.
Bek AS, Chris Richards, menegaskan tim tetap solid. “Kami bilang padanya, kami di belakangmu. Kami tim berisi 26 pemain, bukan satu orang. Satu orang jatuh, yang lain siap menggantikan,” ujarnya.
Dukungan Tim dan Keyakinan Pelatih
Pochettino mengaku kartu merah justru memicu semangat juang. “Saya melihat mata para pemain berkata, ‘Pelatih, kami siap bertarung’. Mereka sedang menciptakan warisan di negara ini. Dengan penggemar luar biasa, semuanya mungkin. Why not us?”
Momen itu, menurut komentator Sue Smith, justru memperlihatkan sisi profesional AS. “Pertahanan mereka rapi, Bosnia tak bisa menembus. Kemenangan itu layak. Saya pikir mereka sudah mengejutkan banyak pihak, dan pasti akan menguji Belgia,” ujarnya di BBC.
Peluang AS Hadapi Belgia di Perempat Final
Pertandingan melawan Belgia di Seattle pada Senin malam (01:00 BST Selasa) akan menjadi ujian mental dan taktik. Tanpa Balogun, AS harus mengandalkan kolektivitas dan semangat yang disebut Pochettino. Dukungan publik tuan rumah bisa menjadi faktor pembeda.
Kembali ke pertanyaan awal: apakah kartu merah Balogun akan menjadi batu sandungan? Atau justru memperkuat tekad tim untuk membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar satu pemain?
Kesimpulan: Bisakah AS Bertahan Tanpa Balogun?
Kemenangan atas Bosnia menunjukkan bahwa AS memiliki kedalaman skuad. Namun, saat melawan Belgia yang lebih berpengalaman, kehilangan pencetak gol terbanyak sangat berisiko. Semua mata akan tertuju pada Pepi dan strategi Pochettino. Jika AS berhasil melewati rintangan ini, maka “Why not us?” mungkin bukan sekadar slogan.
