Ismael Bennacer resmi meninggalkan AC Milan. Klub raksasa Serie A itu telah mengonfirmasi kesepakatan untuk mengakhiri kontrak sang gelandang, yang dikabarkan akan segera bergabung dengan Al-Gharafa di Qatar Stars League. Dengan begitu, petualangan Bennacer bersama Rossoneri resmi berakhir setelah berlangsung lebih dari lima tahun.
Kepergian Bennacer menjadi momen penting bagi Milan yang tengah melakukan perombakan skuad. Di sisi lain, sang pemain mendapat kesempatan untuk memulai lembaran baru di kompetisi yang semakin bergengsi, yakni Qatar Stars League. Klub tujuannya, Al-Gharafa, juga tengah membangun tim yang lebih kompetitif untuk musim mendatang.
Fakta di Balik Keputusan Bennacer Tinggalkan AC Milan
Bennacer terakhir kali tampil dalam laga kompetitif untuk AC Milan pada Februari 2025. Sebelumnya, pemain berpaspor Aljazair itu sempat mengalami cedera lutut serius pada musim sebelumnya, yang membuatnya absen dalam waktu yang cukup lama. Setelah pulih, ia kesulitan untuk merebut kembali tempat reguler di lini tengah Rossoneri.
Dalam 18 bulan terakhir, Bennacer menjalani masa peminjaman di dua klub berbeda. Ia mencatatkan 12 penampilan bersama Marseille pada paruh kedua musim 2024-25, lalu tampil 19 kali untuk Dinamo Zagreb pada musim lalu. Meski tidak lagi menjadi bagian dari rencana utama Milan, catatan ini membuktikan bahwa Bennacer masih mampu tampil kompetitif di level Eropa.
Perjalanan Karier Bennacer di San Siro
Bennacer bergabung dengan Milan dari Empoli pada 2019. Selama membela tim asal Lombardy itu, ia tercatat tampil dalam 178 pertandingan di semua kompetisi. Hanya enam pemain yang mewakili Milan lebih sering sejak kedatangannya, dengan Rafael Leao memimpin daftar tersebut lewat 291 penampilan.
Puncak kariernya bersama Milan terjadi pada musim 2021-22. Di bawah arahan Stefano Pioli, Bennacer tampil dalam 31 pertandingan dan mencetak dua gol, sekaligus mengantarkan Milan meraih gelar Scudetto ke-19. Gelar tersebut menjadi salah satu kenangan terindah dalam perjalanan kariernya di San Siro.
Dampak Kepergian Bennacer bagi Milan dan Al-Gharafa
Kepergian Bennacer memberi ruang bagi Milan untuk merampingkan skuad dan menata ulang struktur gaji tim. Dengan mengakhiri kontrak secara bersama-sama, Milan tidak lagi terbebani oleh nilai kontrak sang pemain. Langkah ini sejalan dengan strategi klub yang ingin membangun tim yang lebih muda dan efisien.
Di sisi lain, Al-Gharafa mendapatkan tambahan kualitas di lini tengah mereka. Klub yang musim lalu finis di posisi keempat Qatar Stars League itu tentu berharap pengalaman Bennacer di Eropa bisa menjadi pembeda. Apalagi, tim asuhan Pedro Martins tersebut tengah berusaha untuk bersaing di papan atas kompetisi domestik.
Isi Pesan Perpisahan Bennacer untuk Milanisti
Dalam video yang diunggah ke media sosial, Bennacer menyampaikan pesan emosional untuk para penggemar Milan. Ia mengaku bahwa tahun lalu ia sempat mengucapkan selamat tinggal, tetapi tidak pernah menyangka bahwa ucapan itu benar-benar menjadi perpisahan. Ia menyebut pengalamannya memakai seragam Milan selama lebih dari lima tahun sebagai sesuatu yang membanggakan.
Bennacer juga menyoroti kemenangan Scudetto sebagai salah satu momen terindah dalam kariernya. Baginya, bermain di depan pendukung San Siro adalah kehormatan terbesar yang ia rasakan. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada klub dan seluruh penggemar yang selalu mendukungnya selama berseragam Rossoneri.
Kepergian Bennacer menutup satu babak panjang yang penuh prestasi di AC Milan. Dengan 178 penampilan dan satu gelar Scudetto, namanya pantas dikenang sebagai bagian dari sejarah klub. Kini, tantangan baru telah menantinya di Qatar bersama Al-Gharafa.
